Tuesday, 2 October 2012

BERDO'A KEPADA ALLAH DI WAKTU LAPANG

BERDO'A KEPADA ALLAH DI WAKTU LAPANG

Saudaraku..
Abu Darda ra pernah menasihati kita:

اُدْعُ اللَّهَ يَوْمَ سَرَائِكَ لَعَلَّهُ يَسْتَجِيْبُ لَكَ يَوْمَ ضَرَائِكَ

"Berdo'alah kepada Allah di hari-hari senangmu, mudah-mudahan Dia memperkenankan do'amu di hari-hari sulitmu."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..

RELA DENGAN GARIS KETETAPAN-NYA

RELA DENGAN GARIS KETETAPAN-NYA

Saudaraku..
Suatu hari Sa'ad bin Abi Waqqash ra mengunjungi Mekkah. Ketika itu (di masa tuanya) penglihatannya sudah tiada berfungsi lagi. Penduduk Mekkah yang mengetahui keutamaan Sa'ad, di mana ia memiliki ketajaman do'a, maka mereka berbondong-bondong mendatangi Sa'ad. Setiap orang minta dido'akan seperti apa yang mereka hajatkan.

Abdullah bin Saib berkata, "Akupun mendatangi Sa'ad, kala itu aku masih remaja belia. Saat aku menyapanya, ia telah mengenaliku. Ia berkata, "Bukankah engkau qari'nya penduduk Mekkah?."

"Iya," jawabku.

Friday, 28 September 2012

PARAMETER HATI YANG SUCI

PARAMETER HATI YANG SUCI

Saudaraku..
Utsman bin Affan ra pernah bertutur:

"Aku enggan jikalau siang dan malam hari datang menyapaku, terkecuali saat itu aku sedang melihat (membaca) kalamullah, yakni; al Qur'an."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Itulah ucapan hati menantu Rasulullah saw. Sahabat yang dikenal pemalu sehingga para malaikat dan Nabi-pun malu terhadapnya. Demikian pula ia masyhur dengan kedermawanannya dan kedekatannya dengan kitabullah; al Qur'an.

Dan masih basah dalam ingatan kita, bagaimana keadaannya ketika ia menghadap Allah swt, kala ia terbunuh pada hari fitnah di tangan para pengacau Negara dan agama. Saat itu ia sedang membaca kalamullah. Itulah sahabat yang mampu mengkhatamkan al Qur'an dalam shalat malam.

Itulah sahabat Nabi saw yang pernah menasihati kita:

CINTA & BENCI YANG MEMBERI MANFAAT DI SANA

CINTA & BENCI YANG MEMBERI MANFAAT DI SANA

Saudaraku..
Abdullah bin Umar ra pernah berkata:

"Demi Allah, sekiranya aku berpuasa sepanjang hari tanpa putus. Ku dirikan shalat tahajjud setiap malam tanpa pernah tidur. Seluruh hartaku, ku infakkan di jalan Allah. Lalu aku menghadap-Nya di hari kepergianku, sementara tiada terpendam perasaan cinta di hati ini terhadap orang-orang yang mentaati Allah serta tiada kebencian terhadap ahli maksiat. Maka apa yang telah ku perbuat itu tak dapat memberiku manfaat sedikit pun jua di sana."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..

Friday, 17 August 2012

Zakat Di Negri Asal Sementara Orangnya di Luar Negri.


Aku sempat di tegur oleh seseorang (privasi)...katanya,"Kamu tinggal di Saudi,kamu harus bayar fitrah di Saudi,ngotot dan katanya harus dan tidak sah kalau tidak mengeluarkannya di Saudi.
Setelah aku mencari tahu,Jumhur ulama mengatakan SAH zakat fitrah di bayarkan di negeri asal meskipun orangnya sedang berada diluar negri hanya lebih afdhol dikeluarkan negri tempat ia tinggal.

Menurut fatwa Lajnah Daimah memperbolehkan hal tersebut.

Mewakilkan penyerahan/penyaluran zakat oleh keluarga, kerabat atau seseroang tertentu, dengan memberikan zakat fitrah sesuai dengan makanan pokok negeri yang bersangkutan, hal ini insya Allah tidaklah mengapa. Selama yang diserahi sebagai perwakilan tersebut amanah dalam penyalurannya. Komisi Tetap Dewan Fatwa Saudi Arabia, telah mengeluarkan fatwa pembolehan hal tersebut. (Fatawa al-Lajnah 9/374)

Sunday, 8 July 2012

SEJENAK KITA MERENUNG

SEJENAK KITA MERENUNG

Saudaraku..
Kala sakit mendera Abu Hurairah ra, ia menangis sesunggukan. Ada seseorang yang bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis (wahai Abu Hurairah)?."

Ia menjawab, "Aku menangis bukan lantaran akan berpisah dengan dunia kalian ini. Tapi air mata ini mengucur karena aku akan mengadakan perjalanan yang teramat jauh sedangkan bekalku amat terbatas. Sungguh sekarang aku berada di sebuah padang luas di antara surga dan neraka. Aku tidak tahu pasti, ke surga atau ke neraka aku akan ditarik."

Saudaraku..
Rasa khauf (takut) akan siksa neraka itulah yang selalu melekat di hati para sahabat. Terlebih saat sakit dan kala kematian sudah berada di ambang pintu.

Demikianlah, semakin baik iman dan kwalitas amal serta ubudiyah seseorang. Maka rasa khauf (takut siksa) itu semakin besar memenuhi relung hati. Itu artinya semakin ringkih iman dan lumpuh amal-amal shalih kita, maka semakin sirna rasa khauf (takut) kita kepada siksa-Nya.

Sudahkah air mata kita menetes hari ini, lantaran takut kepada siksa-Nya? Wallahu a'lam bishawab.

Riyadh, 07 Juli 2012 M
Oleh,Ust Ahmad Mustaqim

SUDAHKAH LISAN KITA BERISTIGHFAR HARI INI?


                SUDAHKAH LISAN KITA BERISTIGHFAR HARI INI? 

Saudaraku..
Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

اَلْعَجَبُ مِمَّنْ يَقْنَطُ وَمَعَهُ النَّجَاةُ.
قِيْلَ لَهُ: وَمَا هِيَ النَّجَاةُ؟
قَالَ: كَثْرَةُ الْاِسْتِغْفَارِ.


"Sungguh mengherankan, orang yang putus asa (dari rahmat Allah) padahal ia mempunyai jalan selamat."

Ada yang berkata, "Apakah jalan selamat itu?."

Ia menjawab, "Memperbanyak istighfar."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saturday, 30 June 2012

BEKAL PERJALANAN PANJANG

BEKAL PERJALANAN PANJANG

Saudaraku…
Kita semua adalah musafir. Kita sadari atau tidak. Baik yang berada di negeri sendiri atau luar negeri. Musafir yang sedang mengadakan perjalanan hakiki. Bukan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi untuk perjalanan abadi dan tujuan hakiki. Yaitu, bahagia di kampung akherat.

Semakin jauh perjalanan yang kita tempuh, semakin banyak pula bekal yang harus kita siapkan. Semakin lamakita menginginkan mukim di daerah tujuan, maka persiapan yang kita lakukan juga semakin lama. Itu pun terkadang ada saja yang tertinggal.

Jika bekal dan persiapan matang yang sudah kita sediakan secara maksimal untuk perjalanan kita saja terkadang belum mencukupi kebutuhan dalam perjalanan. Apatah lagi bagi kita yang mengadakan perjalanan tanpa bekal cukup dan persiapan matang. Tentu, kita tak akan sampai pada tujuan. Atau malah berbalik arah dan mungkin mengambil arah lain untuk perjalanan kita.

Saudaraku..
Sekarang kita sedang mengadakan perjalanan menuju kampung keabadian, yakni kampung akherat. Perjalanan yang sangat jauh dan panjang. Di sanalah masa depan kita dipertaruhkan. Abadi dalam kebahagiaan. Atau sebaliknya kekal dalam siksaan.

Suatu hari Abu Dzar al Ghifari memberi nasihat kepada manusia di sekitar Ka'bah seraya berucap:

KIAT-KIAT MERAWAT KEBERKAHAN HARTA

KIAT-KIAT MERAWAT KEBERKAHAN HARTA

Saudaraku…
Salah satu nikmat terbesar yang Allah swt karuniakan kepada kita adalah nikmat harta. Bahkan harta dan anak-anak, Allah sebut sebagai lambang perhiasan dunia. Artinya ketika kedua-duanya telah berada dalam genggaman kita, seolah-olah kita telah memiliki dunia dan seisinya. "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." Al Kahfi: 46.

Penyebutan harta lebih didahulukan daripada anak-anak, tentu memiliki rahasia yang agung. Menjadi aksioma, bahwa banyak orang yang dapat meraih kebahagiaan hidup lantaran memiliki harta, walaupun anak keturunan yang didamba belum hadir meramaikan sebuah keluarga.

Tapi tidak sedikit orang yang hidupnya tak terarah dan linglung, karena menanggung beban hutang yang menyesakan dada. Walaupun ada suara tawa dan tangis anak-anak dalam keluarga.

Maka perpaduan antara harta dan anak-anak, menjadikan kebahagiaan kita dalam hidup terasa sempurna. Walaupun tiada kesempurnaan hakiki selama kaki kita masih menginjak bumi. Karena kesempurnaan itu milik Allah swt dan akan kita raih di akherat sana.

Namun kedua nikmat ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana besar dan kehinaan abadi jika kita tak menjadikannya sebagai sarana taqarrub kepada Allah swt."Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu. Dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." At Taghabun: 15.

Saudaraku…

5 INDIKATOR KEBAHAGIAAN

5 INDIKATOR KEBAHAGIAAN KITA

Saudaraku…
Semua orang mendamba kebahagiaan hidup. Apapun jabatan yang disandangnya. Apapun profesi yang digelutinya. Apapun status sosialnya dan levelnya. Berapa usia dan jenis kelaminnya. Dan seterusnya.

Namun terkadang kebahagiaan itu semakin dikejar, justru semakin menjauh dari kehidupan kita. Karena kebahagiaan bathin tak bisa dibeli dengan harta dunia, intan permata, emas dan mutiara. Dan bahkan tak mungkin ditukar dengan seluruh kekayaan seisi perut bumi ini.

Tiada garansi, orang yang bergaji 20 ribu dolar atau 30 ribu real, lebih bahagia daripada mereka yang bergaji 200 dolar atau 600 real perbulan. Tiada jaminan, orang yang memiliki jabatan bergengsi, lebih bahagia daripada orang yang menggarap lahan sawah ladang milik orang lain. Dan jangan pernah kita mengira bahwa orang yang bekerja sebagai buruh bangunan dan yang seirama dengan itu, tiada pernah mengecap kebahagiaan?.

Fakta berbicara, tidak sedikit pejabat yang stres saat masa jabatannya hampir berakhir. Banyak orang kaya raya yang linglung, karena memiliki anak keturunan yang selalu menghitamkan wajah orang tua. Dan mungkin ada pengusaha sukses yang terpaksa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri lantaran istri pujaan hatinya selingkuh dengan mantan pacarnya. Dan seterusnya.

Kebahagiaan itu erat hubungannya dengan hati kita. Ia sangat dekat dengan iman yang subur. Hati yang bersyukur. Lisan yang selalu basah dengan zikir. Mata dan akal yang bertafakkur.

Apakah kita termasuk orang yang telah berbahagia di dunia ini? Bisa iya bisa juga tidak. Apa indikator kebahagiaan kita?. Mari kita cerna parameter kebahagiaan hidup menurut menantu Rasulullah saw; yaitu Ali bin Abi Thalib ra.