Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts

Sunday, 8 July 2012

SEJENAK KITA MERENUNG

SEJENAK KITA MERENUNG

Saudaraku..
Kala sakit mendera Abu Hurairah ra, ia menangis sesunggukan. Ada seseorang yang bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis (wahai Abu Hurairah)?."

Ia menjawab, "Aku menangis bukan lantaran akan berpisah dengan dunia kalian ini. Tapi air mata ini mengucur karena aku akan mengadakan perjalanan yang teramat jauh sedangkan bekalku amat terbatas. Sungguh sekarang aku berada di sebuah padang luas di antara surga dan neraka. Aku tidak tahu pasti, ke surga atau ke neraka aku akan ditarik."

Saudaraku..
Rasa khauf (takut) akan siksa neraka itulah yang selalu melekat di hati para sahabat. Terlebih saat sakit dan kala kematian sudah berada di ambang pintu.

Demikianlah, semakin baik iman dan kwalitas amal serta ubudiyah seseorang. Maka rasa khauf (takut siksa) itu semakin besar memenuhi relung hati. Itu artinya semakin ringkih iman dan lumpuh amal-amal shalih kita, maka semakin sirna rasa khauf (takut) kita kepada siksa-Nya.

Sudahkah air mata kita menetes hari ini, lantaran takut kepada siksa-Nya? Wallahu a'lam bishawab.

Riyadh, 07 Juli 2012 M
Oleh,Ust Ahmad Mustaqim

SUDAHKAH LISAN KITA BERISTIGHFAR HARI INI?


                SUDAHKAH LISAN KITA BERISTIGHFAR HARI INI? 

Saudaraku..
Ali bin Abu Thalib ra pernah berkata:

اَلْعَجَبُ مِمَّنْ يَقْنَطُ وَمَعَهُ النَّجَاةُ.
قِيْلَ لَهُ: وَمَا هِيَ النَّجَاةُ؟
قَالَ: كَثْرَةُ الْاِسْتِغْفَارِ.


"Sungguh mengherankan, orang yang putus asa (dari rahmat Allah) padahal ia mempunyai jalan selamat."

Ada yang berkata, "Apakah jalan selamat itu?."

Ia menjawab, "Memperbanyak istighfar."
(Mawa'izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saturday, 30 June 2012

BEKAL PERJALANAN PANJANG

BEKAL PERJALANAN PANJANG

Saudaraku…
Kita semua adalah musafir. Kita sadari atau tidak. Baik yang berada di negeri sendiri atau luar negeri. Musafir yang sedang mengadakan perjalanan hakiki. Bukan dari satu tempat ke tempat lainnya. Tetapi untuk perjalanan abadi dan tujuan hakiki. Yaitu, bahagia di kampung akherat.

Semakin jauh perjalanan yang kita tempuh, semakin banyak pula bekal yang harus kita siapkan. Semakin lamakita menginginkan mukim di daerah tujuan, maka persiapan yang kita lakukan juga semakin lama. Itu pun terkadang ada saja yang tertinggal.

Jika bekal dan persiapan matang yang sudah kita sediakan secara maksimal untuk perjalanan kita saja terkadang belum mencukupi kebutuhan dalam perjalanan. Apatah lagi bagi kita yang mengadakan perjalanan tanpa bekal cukup dan persiapan matang. Tentu, kita tak akan sampai pada tujuan. Atau malah berbalik arah dan mungkin mengambil arah lain untuk perjalanan kita.

Saudaraku..
Sekarang kita sedang mengadakan perjalanan menuju kampung keabadian, yakni kampung akherat. Perjalanan yang sangat jauh dan panjang. Di sanalah masa depan kita dipertaruhkan. Abadi dalam kebahagiaan. Atau sebaliknya kekal dalam siksaan.

Suatu hari Abu Dzar al Ghifari memberi nasihat kepada manusia di sekitar Ka'bah seraya berucap:

KIAT-KIAT MERAWAT KEBERKAHAN HARTA

KIAT-KIAT MERAWAT KEBERKAHAN HARTA

Saudaraku…
Salah satu nikmat terbesar yang Allah swt karuniakan kepada kita adalah nikmat harta. Bahkan harta dan anak-anak, Allah sebut sebagai lambang perhiasan dunia. Artinya ketika kedua-duanya telah berada dalam genggaman kita, seolah-olah kita telah memiliki dunia dan seisinya. "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." Al Kahfi: 46.

Penyebutan harta lebih didahulukan daripada anak-anak, tentu memiliki rahasia yang agung. Menjadi aksioma, bahwa banyak orang yang dapat meraih kebahagiaan hidup lantaran memiliki harta, walaupun anak keturunan yang didamba belum hadir meramaikan sebuah keluarga.

Tapi tidak sedikit orang yang hidupnya tak terarah dan linglung, karena menanggung beban hutang yang menyesakan dada. Walaupun ada suara tawa dan tangis anak-anak dalam keluarga.

Maka perpaduan antara harta dan anak-anak, menjadikan kebahagiaan kita dalam hidup terasa sempurna. Walaupun tiada kesempurnaan hakiki selama kaki kita masih menginjak bumi. Karena kesempurnaan itu milik Allah swt dan akan kita raih di akherat sana.

Namun kedua nikmat ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi bencana besar dan kehinaan abadi jika kita tak menjadikannya sebagai sarana taqarrub kepada Allah swt."Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu. Dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." At Taghabun: 15.

Saudaraku…

5 INDIKATOR KEBAHAGIAAN

5 INDIKATOR KEBAHAGIAAN KITA

Saudaraku…
Semua orang mendamba kebahagiaan hidup. Apapun jabatan yang disandangnya. Apapun profesi yang digelutinya. Apapun status sosialnya dan levelnya. Berapa usia dan jenis kelaminnya. Dan seterusnya.

Namun terkadang kebahagiaan itu semakin dikejar, justru semakin menjauh dari kehidupan kita. Karena kebahagiaan bathin tak bisa dibeli dengan harta dunia, intan permata, emas dan mutiara. Dan bahkan tak mungkin ditukar dengan seluruh kekayaan seisi perut bumi ini.

Tiada garansi, orang yang bergaji 20 ribu dolar atau 30 ribu real, lebih bahagia daripada mereka yang bergaji 200 dolar atau 600 real perbulan. Tiada jaminan, orang yang memiliki jabatan bergengsi, lebih bahagia daripada orang yang menggarap lahan sawah ladang milik orang lain. Dan jangan pernah kita mengira bahwa orang yang bekerja sebagai buruh bangunan dan yang seirama dengan itu, tiada pernah mengecap kebahagiaan?.

Fakta berbicara, tidak sedikit pejabat yang stres saat masa jabatannya hampir berakhir. Banyak orang kaya raya yang linglung, karena memiliki anak keturunan yang selalu menghitamkan wajah orang tua. Dan mungkin ada pengusaha sukses yang terpaksa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri lantaran istri pujaan hatinya selingkuh dengan mantan pacarnya. Dan seterusnya.

Kebahagiaan itu erat hubungannya dengan hati kita. Ia sangat dekat dengan iman yang subur. Hati yang bersyukur. Lisan yang selalu basah dengan zikir. Mata dan akal yang bertafakkur.

Apakah kita termasuk orang yang telah berbahagia di dunia ini? Bisa iya bisa juga tidak. Apa indikator kebahagiaan kita?. Mari kita cerna parameter kebahagiaan hidup menurut menantu Rasulullah saw; yaitu Ali bin Abi Thalib ra.

Monday, 20 February 2012

Apa Dan Bagaimana Qunut Nazilah?

Oleh:Ust Abdullah Haidir

Apa dan Bagaimana Qunut Nazilah

Di masjid-masjid Arab Saudi kini dibacakan Qunut Nazilah dalam shalat Fardhu untuk mendoakan rakyat Suriah yang sedang mengalami penderitaan menghadapi rezim diktator Suriah. Apa dan bagaimana Qunut Nazilah? Berikut sedikit uraiannya, semoga bermanfaat.

Definisi:
    Qunut (قنوت) memilik banyak makna, namun dalam hal ini, yang dimaksud adalah berdoa kala berdiri dalam shalat.
    Nazilah (نازلة) artinya: Bencana yang sangat berat. Jamaknya adalah nawazil (نوازل)\

Maka, yang dimaksud Qunut Nazilah secara umum adalah doa yang dipanjatkan saat berdiri dalam shalat apabila terjadi bencana bencana besar yang menimpa kaum muslimin secara masal. Seperti adanya pihak yang memerangi kaum muslimin, kelaparan masal, wabah penyakit atau sebagainya.
    Qunut nazilah merupakan bentuk perhatian dan empati seorang muslim terhadap nasib yang menimpa saudara-saudaranya walau di kejauhan. Yaitu dalam bentuk memanjatkan doa kepada Allah Ta'ala. Di dalamnya terdapat ketergantungan kepada Allah dan persaudaraan terhadap sesama muslim.

Landasan Hukum
    Banyak riwayat yang menunjukkan pelaksanaan qunut nazilah yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Di antaranya diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu anhu, dia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ
"Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam melaksanakan qunut selama sebulan. Beliau melaknat (suku) Ri'l, Dzakwan dan Ushayyah. Mereka telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya." (Muttafa alaih)

      Latar belakangnya adalah karena suku-suku tersebut membunuh para shahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dikirim untuk mengajarkan Islam kepada mereka atas permintaan mereka sebelumnya. Diriwayatkan pula bahwa beliau melakukan qunut ketika ada seorang shahabat ditawan kaum musyrikin.

Kedudukan
      Qunut Nazilah sunah dilakukan apabila ada sebab-sebab yang melatabelakanginya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Qunut ini disunahkan ketika terjadi musibah besar. Pendapat ini merupakan pendapat ulama fiqih dari kalangan Ahli Hadits. Hal ini juga dinyatakan para Khulafa Rasyidin." (Majmu Fatawa, 23/108)

Waktu Pelaksanaan

      Dilakukan atau tidak dilakukan qunut tergantung sebabnya. Jika ada sebabnya, maka qunut hendaknya dilakukan. Jika sebabnya telah hilang, maka qunut hendaknya dihentikan. Adapun qunut Rasulullah shallallahu shallallau alaihi wa sallam selama sebulan, itu terkait sebab yang melatarbelakanginya, bukan patokan masa atau waktu pelaksanannya.

      Pelaksanaan qunut dilakukan setelah bangun dari ruku pada rakaat terakhir dalam semua shalat fardhu yang lima seraya mengangkat kedua tangan. 

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, dia berkata,
قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِيسُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut selama sebulan berturut-turut pada shalat Zuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di penghujung shalat, jika selesai membaca 'sami'allahu liman hamidah' di rakaat terakhir. Beliau mendoakan perkampungan Bani Sulaim, Ra'l, Zakwan, Ushayyah. Lalu (makmum) di belakangnya mengaminkannya."
(HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim. An-Nawawi berkata, sanadnya hasan dan shahih. Ibnu Qayim berkata, 'Haditsnya shahih.' Al-Albany mencantumkannya dalam Shahih Sunan Abu Daud, no. 1443)

      Imam Nawawi berkata, "Pendapat yang shahih dan masyhur bahwa apabila terjadi bencana besar, seperti serbuan musuh, paceklik, wabah penyakit, kehausan, dan bahaya yang tampak di kalangan kaum muslimin atau semacamnya, mereka melakukan qunut dalam seluruh shalat fardhu. Jika tidak ada (sebab-sebab itu), maka tidak dilakukan qunut. (Syarah Muslim, Nawawi, 5/176)

      Namun berdasarkan riwayat yang ada, qunut yang dilakukan Rasulullah shallallalhu alaihi wa sallam, lebih sering dilakukan pada shalat Shubuh, kemudian Maghrib, lalu Isya, kemudian Zuhur dan Ashar. (Majmu Fatawa, 22/269, Zadul Ma'ad, 1/273)

      Adapun qunut pada shalat Jumat, para ulama berbeda pendapat. Sebagian membolehkan berdasarkan keumuman dalil. Sebagian melarangnya, karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, disamping dalam Khutbah Jumat sudah dipanjatkan doa untuk kaum muslimin.

Tata Cara Qunut

· Dari segi kandungan, maka isi dari qunut nazilah adalah mendoakan kaum muslimin yang tertimpa bencana agar diberikan pertolongan, keselamatan dan kesabaran. Sementara yang wafat semoga diberikan rahmat dan diterima amalnya serta diampuni dosanya. Selain itu mendoakan kehancuran, turunnya azab dan laknat kepada musuh-musuh Islam. Tidak mengapa dalam hal ini menyebutkan nama-nama yang bersangkutan jika jelas dia telah berbuat jahat terhadap kaum muslimin.

· Tidak selayaknya berdoa untuk kebaikan diri sendiri dalam Qunut Nazilah. Sebab qunut ini memang dikhususkan untuk mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara muslim dan kehancuran bagi musuh-musuh Islam. Berbeda dalam qunut shalat witir yang dibolehkan untuk berdoa bagi kebaikan diri sendiri.

· Dianjurkan tidak terlalu panjang dalam berdoa agar tidak memberatkan makmum yang memiliki berbagai keperluan. Ketika Anas bin Malik ditanya tentang apakah dalam shalat Shubuh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melakukan qunut? Beliau berkata, "Ya, beliau qunut sebentar." (HR. Muslim). Hal tersebut juga tampak dari contoh doa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan redaksi yang pendek.

· Disunahkan bagi imam mengeraskan bacaan qunut dan diaminkan oleh makmum seraya mengangkat kedua tangan, bahkan termasuk dalam shalat-shalat sirriyah (yang tidak dikeraskan bacaannya).

Ibnu Hajar berkata, "Yang tampak bagi saya tentang hikmah dijadikannya tempat qunut saat I'tidal, bukan saat sujud, padahal sujud adalah tempat terkabulnya doa dan terdapat dalil yang memerintahkan hal itu, karena yang diinginkan dari qunut nazilah adalah agar makmum ikut mengaminkan bersama imam. Karena itu, mereka (para ulama) sepakat (berpendapat) bahwa bacaannya dikeraskan." (Fathul Bari, 2/570)

· Tidak ada redaksi khusus dalam qunut nazilah. Hendaknya disesuaikan dengan apa yang didoakan. Tidak membaca Allahummahdinii fiiman hadaiit, wa aafinii fiiman aafaiit….sebagaimana biasa dibaca dalam qunut shalat Witir.

Contoh qunut nazilah yang disesuaikan dengan kondisi kaum muslimin di Suriah sekarang ini:

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي سُورِيَا ، اللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ وانْصُرْهُمْ عَلَى أَعْدَائِهِمْ، اللَّهُمَّ أَفْرِغْ عَلَيهِمْ صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ . اللَّهُمَّ اشْفِ جَرْحَاهُمْ وَتَقَبَّلْ مَوْتَاهُمْ فِي الشُّهَدَاءِ . اللَّهُمَّ ارْحَمْ بُكَاءَالأَطْفَالِ الْيَتَامَى وَالنِّسَاءِ الثَّكْلىَ .
Ya Allah, selamatkan orang-orang yang lemah dari kaum mukminin di Suriah. Ya Allah, bantulah mereka, menangkanlah mereka atas musuh-musuh mereka. Ya Allah, limpahkan kesabaran pada mereka dan kuatkan kaki-kaki mereka. Ya Allah, sembuhkan orang yang luka di antara mereka, terimalah yang wafat di antara mereka sebagai para syuhada. Ya Allah, kasihanilah tangisan anak-anak yatim, wanita-wanita yang kehilangan sanak saudara.

اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلىَ بَشَّار وُجُنُودَهُ ، وَمَنْ شَايَعَهُم وَأَعْانَهُمْ ، اللَّهُمَّ اَلْعِنْهُمْ ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهَاعَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِينِ يُوسُف. اللَّهُمَّ لاَ تَرْفَعْ لَهُمْ رَايَة وَاجْعَلْهُمْ لِمَنْ خَلْفَهُمْ آيَة. اللَّهُمَّ أَرِنَا فِيهِمْبَأْسَكَ الَّذِي وَعَدْتَ ، اللَّهُمَّ إِنَّهُمْ بَغَوا وَعَتَوا فَأَرِنَا فِيهِمْ عَجَائِبَ قُدْرَتِكَ يَا عَزِيزُ يَا جَبَّارُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير . وَصَلىَّ اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ .

Ya Allah, keraskanlah injakan-Mu (azab-Mu) kepada Basyar dan tentara-Nya serta siapa yang berpihak dan membantu mereka. Ya Allah, turunkanlah azab kepada mereka seperti malapetaka yang menimpa bertahun-tahun pada zaman Nabi Yusuf. Ya Allah, jangan tegakkan panji mereka, jadikanlah mereka sebagai pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka. Ya Allah, perlihatkan kami pada mereka azab-Mu yang Engkau janjikan. Ya Allah, mereka telah melampaui batas dan berbuat kerusakan, perlihatkan kami dahsyatnya kekuasaan-Mu pada mereka, yaa rabbal aalamiin, wahai Yang Maha Perkasa, sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhamad, para keluarga dan seluruh shahabatnya.

Monday, 6 February 2012

Manfaat Bersedekah

Oleh:Ust Ahmad Mustaqim

Saudaraku…

      Salah satu nikmat besar pemberian-Nya yang wajib kita syukuri adalah dibukanya kran-kran rezki untuk kita. Ada yang mengucur deras dan ada pula yang kecil. Ada yang mengambil jatah rezkinya harian, pekanan, bulanan dan bahkan ada yang musiman. Walaupun kadar rezki kita berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Tapi Allah swt memberi kita kebutuhan sesuai dengan kadar rezkinya masing-masing.

      Apa yang menjadi jatah rezki kita, pasti akan sampai kepada kita dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya. Dan apa yang bukan menjadi jatah rezki kita, tak akan menyapa kita walapun kita mengejarnya dengan perasan keringat. Dan apa yang bukan jatah rezki kita, akan berpindah ke tangan orang lain walaupun telah berada di genggaman kita.

     Prestasi dan kecerdasan kita, bukan jaminan keluasan rezki kita. Sebaliknya orang yang selalu tertinggal prestasinya di sekolah dulu, bisa jadi di lapangan rezki, ia lebih mudah dan luas dari yang lainnya.

      Fakta berbicara, ada beberapa orang yang mengais rezki di satu perusahaan, satu kantor, institusi pemerintahan, kantor dakwah dan seterusnya, tapi income dan fasilitas yang disediakan juga berbeda-beda.

     Namun yang harus kita yakini bahwa rezki yang telah sampai ke tangan kita, pada hakikatnya merupakan titipan Allah swt. Yang Dia bisa menambah, mengurangi atau mengambilkannya kapan Dia kehendaki. Untuk itu semestinya kita salurkan sesuai dengan aturan dan kehendak-Nya.

     Ketika Ia meminta pinjaman yang baik (sedekah) kepada kita, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya. Terlebih Dia akan mengembangkan harta kita di akherat sana, dengan kelipatan 700 % keuntungan dan bahkan kelipatan yang tak terhitung. "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir menumbuhkan seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (Al Baqarah: 261).

      Adakah tawaran yang lebih baik dari itu jika kita menyimpan harta kita di bank-bank di dunia? Di bank konvensional sekalipun? Tentu tidak ada.

Saudaraku….

Abu Laits As Samarkandi rahimahullah pernah berkata, "Sisihkanlah dari hartamu untuk sedekah, sesuai kadar kemampuanmu banyak ataupun sedikit. Karena sedekah akan mendatangkan sepuluh perkara yang terpuji. Lima kebaikannya diraih di dunia dan lima sisanya dikecap di akherat.

Adapun lima buah kebaikan yang kita raih di dunia adalah:
· Mensucikan harta.

· Membersihkan dosa dan kesalahan.

· Menolak bala' dan sakit.

· Mengalirkan kebahagiaan di hati orang-orang miskin.

· Mendatangkan keberkahan harta dan keluasan dalam rizki.

Saudaraku…

Barangkali ada harta yang kita peroleh dari jalan yang curang, bersumpah palsu dan seterusnya. Hal itu dapat kita sucikan dengan sedekah. Tentunya setelah kita bertaubat kepada Allah Swt.

Siapa yang tidak ingin dosa-dosa yang telah diperbuatnya terbakar dan hangus? Salah satu cara untuk menghapus dosa dan kesalahan kita di masa lalu adalah dengan sedekah. Dan tentunya tidak semua dosa dan kesalahan kita terhapus dengan sedekah. Sedekah hanya menghapus dosa-dosa kecil yang pernah kita ukir dalam hidup kita. Adapun dosa-dosa besar tak terlepas dari tubuh kita kecuali dengan taubat dan istighfar.

Nabi Saw bersabda, "Dan sedekah itu menghapus kesalahan seumpama air dapat memadamkan api." (H.R; Tirmidzi).

Dengan demikian, dosa ibarat api yang membakar tubuh kita, sedangkan peredamnya adalah sedekah yang berfungsi sebagai air dingin yang mengguyur tubuh kita.

Sakit dan musibah, erat hubungannya dengan kebakhilan dan kekikiran diri kita. Semakin banyak kita sedekah, insyaallah sakit dan musibah akan menjauh dari kita. Bahkan ia dapat menjadi obat penyembuh sakit yang mendera kita. "Obatilah orang-orang sakit dari kalian dengan sedekah." (dihasankan oleh syekh Al Bani dalam shahih al jami').

Di antara bentuk musibah yang tidak ringan dirasa adalah belum hadirnya jodoh di samping kita. Bagi yang belum melepaskan masa lajangnya. Karena lautan teramat luas bila dilayari seorang diri. Hutan belantara dan alam ini teramat berat direntasi tanpa belahan hati yang menemani. Dan luka-luka di tubuh ini terasa begitu perih dirasa tanpa ada bidadari tempat kita berbagi.
Dengan sedekah, insyaallah jodoh akan mendekat dan tali pernikahan pun mudah kita ikat.

Dan bagi yang sudah berkeluarga, tapi belum dikaruniai buah hati juga merupakan ujian yang berat dirasa. Karena anak merupakan dambaan semua pasutri. Salah satu ikhtiyar yang kita lakukan untuk memancing kehadiran sang buah hati adalah dengan memperbanyak sedekah.

Mengalirkan kebahagiaan dan keceriaan di hati orang yang miskin, merupakan warna kebaikan yang paling disukai Allah Swt, sebagaimana sabdanya, "Amalan, yang paling disukai Allah adalah keceriaan yang engkau alirkan di hati seorang muslim." H.R; Tirmidzi.

Orang yang berhutang budi, biasanya tanpa dimintapun ia akan mendo'akan orang yang berjasa dalam hidupnya dengan do'a-do'a yang baik. Terlebih do'a orang yang berkekurangan sangat dekat untuk dikabulkan.

Dengan sedekah harta kita menjadi bertambah kwantitasnya dan melahirkan keberkahan dalam hidup kita. "Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya." Saba': 39.

Saudaraku…
Tiada sejarahnya, orang yang banyak sedekah lalu ia jatuh miskin. Tiada ceritanya orang yang banyak sedekah, hidupnya dililit masalah dan persoalan hidup. Kalaupun ada, barangkali itu sebagai ujian dari-Nya. Atau bisa jadi karena ia tidak ikhlas dan tulus dalam sedekahnya atau karena sebab lainnya.

Sudahkah kita sedekah hari ini? Wallahu a'lam bishawab.

Jangan Biarkan Kuncupnya Berbunga

Oleh:Ust Abdullah Haidir

Imam Ghazali, rahimahullah, berkata,

الْخُطْوَةُ اْلأُولَى فِي الْبَاطِلِ إِنْ لَمْ تَدْفَعْ أَوْرَثَتْ الرَّغْبَةَ ، وَالرَّغْبَةُ تُورِثُ الْهَمَّ ، وَالْهَمُّ يُورِثُ الْقَصْدَ ،وَالْقَصْدُ يُورِثُ الْفِعْلَ ، وَالْفِعْلُ يُورِثُ البَوَارَ وَالْمَقْتَ ، فَيَنْبَغِي حَسْمَ مَادَّةِ الشَّرِّ مِنْ مَنْبَعِهِ اْلأَوَّلِ وَهُوَالْخَاطِرُ ، فَإِنَّ جَمِيعَ مَا وَرَاءَهُ يَتْبَعُهُ (إحياء علوم الدين،
4/401 (
"Langkah pertama kebatilan, jika tidak engkau cegah, akan menjadi keinginan. Keinginan akan melahirkan kemauan, kemauan akan melahirkan tujuan, tujuan akan melahirkan perbuatan. Pebuatan (batil) akan melahirkan kesengsaraan dan kemurkaan. Hendaknya potensi keburukan sudah dituntaskan sejak sumber pertama, yaitu lintasan pikiran, karena seluruh langkah berikutnya hanyalah kelanjutannya." (Ihya Ulumuddin, 4/401)

Ibnu Qayim, rahimahullah, berkata,

دَافِعْ الْخَطْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ فِكْرَةً ، فَدَافِعْ الْفِكْرَةَ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ شَهْوَةً ، فَحَارِبْهَا، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ صَارَتْ عَزِيْمَةً وَهِمَّةً ، فَإِنْ لَمْ تُدَافِعْهَا صَارَتْ فِعْلاً ، فَإِنْ لَمْ تَتَدَارَكْهُ بِضِدِّهِ صَارَ عَادَةً فَيَصْعُبُ عَلَيْكَ الاِنْتِقَالُ عَنْهَا (الفوائد، ص 31)

"Usirlah lintasan pikiran (maksiat), sebab jika tidak engkau cegah, dia berubah menjadi pemikiran. Cegahlah pemikiran (maksiat), jika tidak engkau halau, dia akan berubah menjadi syahwat. Perangilah (syahwat maksiat), sebab jika hal itu tidak engkau lakukan, dia akan berubah menjadi tekad kuat (azimah) dan keinginan besar (himmah). Jika tidak juga engkau cegah, maka dia akan berubah menjadi sebuah perbuatan. Lalu jika engkau tidak lakukan langkah penangkalnya, dia akan menjadi kebiasaan. Dan ketika itu, sulit bagimu meninggalkannya." (Al-Fawaid: 31)

Friday, 3 February 2012

CINTA FITNAH DAN MEMBENCI AL-HAQ

Adalah kisah, antara 'Umar ibn Al-Khaththab, Hudzaifah ibn Al-Yaman dan ‘Ali ibn Abi Thalib.

“Bagaimana keadaanmu pagi ini wahai Hudzaifah?” tanya 'Umar.
“Wahai Amirul Mu’minin,” jawabnya,
“Pagi ini aku mencintai fitnah, membenci al haq, shalat tanpa wudhu, dan kumiliki sesuatu di bumi yang tidak dimiliki oleh Allah di langit.”
"Demi Allah" kata 'Umar, "Engkau membuatku marah!"
Hudzaifah terdiam, tersenyum pada ‘Ali.
"Apa yang membuatmu marah wahai Amirul Mukminin?" kata 'Ali ibn Abi Thalib

'Ali melanjutkan,”..Sungguh benar Hudzaifah, dan akupun seperti dirinya. Adapun kecintaannya pada fitnah,” lanjutnya, ”maksudnya harta dan anak-anak. 

Sebagaimana firman Allah : “Sesunguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah cobaan.” [QS At Taghaabun 64:15]

“Adapun kebenciannya terhadap al haq, maksudnya adalah dia benci kematian.
Shalatnya yang tanpa wudhu adalah shalawat kepada Nabi saw. Adapun yang dimilikinya di bumi dan tidak dimiliki Allah di langit, adalah istri dan anak. Bukankah Allah tak memiliki keduanya?”


JUst Rilex...

Saturday, 28 January 2012

Riya'

Oleh:Ust Abdullah Haidir
Penyakit riya (ingin dilihat dan dipuji) begitu halus dibisikkan oleh setan menyelinap di sela-sela amal ibadah kita. Tanpa muhasabah (evaluasi) dan muraqabatullah (merasa terus terpantau oleh Allah) terus menerus, boleh jadi dia telah sekian lama mengiringi dan menghiasi setiap langkah dan amal kita. Karenanya, Rasulullah saw sangat mengkhawatirkan masalah ini di tengah umatnya.

Beliau bersabda, "Yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil." Ketika beliau ditanya tentang apa itu syirik kecil, beliau bersabda, "Riya." (HR. Ahmad)

Namun, kekhawatiran seseorang terhadap riya sehingga menghalanginya untuk beramal, juga merupakan bisikan setan dari sisi yang lain. Maka tidak sedikit orang yang enggan melakukan aktifitas kebaikan yang tampak dan terlihat karena takut riya, padahal di sana terdapat manfaat yang besar, baik bagi dirinya ataupun orang lain.

Maka dalam hal ini, upaya setan di antara dua; Seseorang beramal namun disertai riya, sehingga amalnya gugur di sisi Allah, atau dia tidak beramal sama sekali karena takut riya sehingga nilainya sama saja dengan orang yang pertama.

Singkirkan bisikan setan dengan terus beramal dan selalu waspadai hati dari sikap riya; Itulah ikhlas….
Fudhail bin Iyadh berkata,
تَرْكُ الْعَمَلِ لأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ ، وَالْعَمَلُ لأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ ، وَاْلإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ مِنْهُمَا
"Meninggalkan amal kerena orang lain adalah riya, beramal karena orang lain adalah syirik, dan ikhlash adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari keduanya." (Syu'abul Iman, Al-Baihaqi)

 Allahumma waffiqna bil amalishaalih, warzuqnal ikhlaasha fiihi (Ya Allah, berilah kami taufik untuk beramal saleh, dan karuniakan kami keihklasan di dalamnya)

3 MODEL ISTRI


3 MODEL ISTRI oleh Ust Ahmad Mustaqim

Tipe istri pendamping hidup ada 3 macam:

· Cerdas dan memiliki keluhuran budi pekerti, dan ini merupakan tingkatan istri terbaik.

· Shalihat dan memiliki kerelaan hati. Ini adalah tipe istri yang akan mengalirkan keridhaan hati.

· Tidak berilmu pengetahuan dan memiliki perangai yang buruk. Ini merupakan model istri yang paling menyusahkan dan memberatkan suami.
(DR. Mustafa Siba'i rahimahullah).

Saudaraku…
Tak bisa dipungkiri, bahwa di antara sumber kebahagiaan kita dalam hidup adalah memiliki pendamping hidup. Maka orang yang menikmati hidup melajang pada hakekatnya adalah mengejar kenikmatan hidup yang semu, walaupun segudang prestasi telah diraihnya. Dan telah berada di puncak karirnya.

Tidak berlebihan, jika masyarakat Arab menyebut orang yang masih hidup menyendiri dengan sebutan 'Al Miskin', orang yang tak punya apa-apa. Walau pun ia telah bergelar mangku bumi karena memiliki tanah dan lahan yang luas tak bertepi.
Hal ini senada dengan apa yang pernah disinggung oleh Nabi SAW, "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-abik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalihah." Artinya, seorang laki-laki yang tak berharta, tapi telah menikah; maka ia adalah orang yang kaya. Karena ia telah memiliki perhiasan dunia termahal, yakni istri shalihah.

Untuk itu al Qur'an membahasakan tujuan asasi dari pernikahan adalah 'litaskunu ilaiha' dan bukan 'litaskunu ma'aha' (terciptanya ketenangan bathin dan bukan sekadar hidup dan tinggal bersama dalam satu atap).

Saudaraku…

Istri yang cerdas dan berbudi pekerti luhur, dapat menghadirkan surga dunia bagi suami dan anggota keluarganya. Kapal cinta akan berlayar meretasi samudera dengan tenangnya. Tak goyang diterpa ombak. Tiada tenggelam dihantam badai. Dan waspada terhadap karang yang bersembunyi dari pandangan mata. Kapal terus melaju hingga sampai di dermaga tujuan. 'Baiti jannati' rumahku adalah surgaku menjelma di alam realita.

Tipe kedua, istri shalihat dan penuh kerelaan hati. Dan istri semacam ini yang akan membuat suami senantiasa tersenyum siang dan malam. Berbunga-bunga sepanjang hari. Bila diperintah ia taat. Jika dipanggil ia datang menghampiri. Kala ditinggal suami bepergian jauh mengais rizki atau untuk urusan yang lain beberapa waktu lamanya, ia jaga kehormatan dirinya dan harta suaminya.

Diberi uang belanja yang mepet, cukup dan ia tidak berkeluh kesah. Diberi nafkah yang cukup, tiada henti lisannya mengucapkan terima kasih terhadap suaminya. Di sela-sela kesibukannya mengurusi pekerjaan rumahnya, ia sempatkan waktu untuk menambah wawasan keilmuannya dengan membaca buku, mendengarkan nasihat, menghafal al Qur'an dan seterusnya. Wajar jika suami, selalu rindu berdekatan dengannya.

Istri model ketiga, akan melahirkan prahara dalam keluarga. Memicu munculnya kemelut dan konflik di antara pasutri. Berapa pun dan apa pun yang diberikan suami kepada istrinya, ia tak pernah puas dan tak pernah ridha dengan suaminya. Itulah yang disebut dengan 'baiti nari' rumahku adalah nerakaku. Rumah bukan lagi menjadi tempat rehat bagi suami. Ia telah berubah menjadi hotel atau penginapan. Di mana suami tiada merasakan kenyamanan dalam keluarga. Sempit dan pengap itulah yang dirasakannya.

Para suami..

Mari kita evaluasi, istri kita termasuk dalam katagori istri yang mana? Pertama, kedua atau ketiga. Jika ia di tingkat kedua, kita bantu agar ia bisa naik tingkat yang lebih baik (pertama). Jika sudah berada di puncak, kita support agar ia tetap mempertahankan posisinya di puncak.

Jika berada di tingkat paling bawah, mari kita bersungguh-sungguh mendidiknya, sehingga ia bisa berada di urutan ke dua dan seterusnya.

Bagi anda yang masih hidup melajang…

Jangan terlalu banyak berangan-angan bisa mempersunting calon pendamping hidup yang memiliki kepribadian seperti Asma binti Abu bakar, Asma' bin Umais atau Fatimah. Sementara anda tak pernah berupaya menjadi sosok seperti Zubair bin Awwam, Ja'far bin Abu Thalib dan Ali bin Abu Thalib. Tetapi anda rela terus berpredikat sebagai orang awwam.

Seperti disebutkan dalam sebuah sya'ir:

Anda menginginkan kesuksesan tapi anda tak menapaki jalan-jalan kesuksesan
Sesungguhnya kapal itu tak berlayar di atas daratan..

"Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yun waj'alna lil muttaqina imama". Amien.

Thursday, 12 January 2012

MENAKAR KEBAHAGIAAN HIDUP


MENAKAR KEBAHAGIAAN HIDUP

    Sudahkah kita menatap indahnya pelangi di langit kehidupan kita?
Apakah kita termasuk orang yang sudah mengecap kebahagiaan hidup sebagaimana yang telah kita pahat di alam khayal kita? Tentu, semua orang mendambakan demikian. Persoalannya adalah bagaimana cara kita menakar kebahagiaan hidup dan mengukur keceriaan jiwa kita.

    Ibnu Abbas rahiallahu anhuma, memberi kita takaran dan timbangan untuk mengukur seberapa besar kebahagiaan yang telah kita rasakan dalam hidup. Beliau menyebutkan ada tujuh perkara yang mengalirkan kebahagiaan dalam hidup kita:

Monday, 9 January 2012

Makna Julukan Ulama (Ulama Profesional)

by:Ust Abdullah Haidir

Ternyata banyak ulama yang profesional... maksudnya mereka memiliki profesi khusus yang menjadi pemasukan pribadinya. Di antaranya;

1. Al-Ajurry, yaitu istilah untuk orang yang profesinya menyewakan dan menjual. Diantara para ulama yang terkenal dengan nama ini adalah: Abu Bakar Muhammad bin Husain Al-Ajiri, pengarang kitab As-Syari’ah.

2. Al-Anmati, yaitu istilah bagi menjual ‘anmat’ yaitu karpet yang dihamparkan. Diantara ulama yang terkenal dengan sandaran ini adalah Utsman bin Said bin Basyar Abul Qasim Al-Anmathi Al-Bagdadi Al-Ahwal.
Ibnu Qhadi Syahbah rahimahullah mengomentari, "(Beliau adalah salah seorang Imam madzhab Syafiiyyah di zamannya. Mengambil ilmu fiqih dari Al-Muzani dan Al-Robi’. Yang menimba ilmu dari beliau adalah Abul Abbas bin Suraij. Syekh Abu Ishaq mengatakan, ‘Dahulu beliau yang menjadikan sebab orang menjadi giat dalam kitab fiqih Syafi’i dan menghafalkannya.' (Thabaqat As-Syafiiyyah, 1/80)

3. Al-Bahroni, istiah untuk para pelaut atau nahkoda perahu. Diantara ulamat terkenal dengan sandaran ini adalah Muhammad bin Mu’ammar bin Rib’i Al-Bahrani Al-Qaisi Al-Basyri. Para imam (hadits) yang enam mengambil riwayat darinya.

4. Al-Barbahari,

Wednesday, 2 March 2011

Janganlah mendekati ZINA!!!

                                               بسم الله الرحمن الرحيم
          Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada jujungan kita Muhammad SAW.

   Hanya sedikit bercerita apa yang pernah aku dengar dan melihat keadaan yang terjadi sekarang.Seorang teman pernah saling cerita tentang keperjakaan.Mereka saling cerita dimana,kapan mereka melepas keperjakaan mereka.Mereka dengan gamblang bahkan dengan sombongnya juga dengan kepuasan mereka sendiri.Seolah tak menanggung beban apalagi suatu dosa.Na'udzubillah min dzalik..Ada yang yang di lepas dengan pacarnya dan yang lebih parah adalah dilepas dengan LONTE.Sungguh kesesatan yang teramat sangat,jika terjerumus dalam jurang nafsu yaitu ZINA.Aku yang tak punya pengalaman tentang itu menjadi bahan ejekan,kata mereka "Hari gini masih perjaka",aku sedikit senyum...sambil hatiku menggerutu (Dosa besar kau anggap sebagai kepuasan,semua itu ada balasannya teman)Ya Allah semoga hinaan/ejekan itu adalah sebaliknya di sisi-MU.
   Seolah-olah dunia ini sudah terbalik,coba kita lihat,Seorang yang berpoligami sesuai dengan syari'at justru dihina sedemikian rupa dan seorang yang berzina bahkan dengan di videokan segala malah di dukung dan di semangati.Astaghfirullah,Na'udzubillah min dzalik..
  Apa mereka buta dengan Al-QUR'AN?
  Apa mereka tak mengerti kalau mereka akan di bangkitkan?
  Apa mereka tak tahu kalau semua yang ia lakukan akan ada hitungan dan balasannya.
 
     Sungguh benar ucapan rasulullah SAW:(ليكونن فى امتى اقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف(صحيح الجميع
        Yang artinya:"Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina,sutra,khomer(minuman keras) dan alat musik.(HR Bukhari).
      Allah telah berfirman dengan jelas:(ولا تقربوا الزنى,انه كان فاحشة وساء سبيلا(سورة الاسراء:32
yang artinya:"Dan janganlah kamu mendekati zina,sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang jelek".(Q.S Al-Isro:32)
 Dalam tafsir kalamul Manan,Syeikh Abdurrahman Nasir As-Sa'di berkata:"Larangan Allah untuk mendekati zina itu lebih tegas dari pada sekedar melarang perbuatannya.

  Demi Allah zina adalah dosa besar dan bukan masalah kecil.Ibnu Mas'ud pernah bertanya tentang dosa besar kepada Rasullah SAW:
Ibnu Mas'ud berkata:"Wahai Rasulullah,dosa apakah yang paling besar disisi Allah?
Beliau bersabda:"Engkau menjadikan bersama Allah sekutu yang lain,padahal Dia menciptakan kamu".
Ibnu Mas'ud berkata:"Kemudian apa?
Beliau bersabda:"Engkau membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersama kamu".
Ibnu Mas'ud berkata:"Kemudian apa?
Beliau bersabda:"Engkau berzina dengan istri tetanggamu".
Kemudian rasulullah membacakan ayat dalam surat Al Furqon yang artinya:"Yaitu orang-orang yang tidak menyeru bersama Allah sesembahan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang di haramkan kecuali dengan hak dan tidak berzina.Dan barang siapa melakukan yang demikian akan mendapatkan dosa,akan dilipat gandakan adzabnya pada hari kiamat dan kekal di dalamnya dengan terhina.(QS.Al-Furqon:68-69).
Maka pantaslah Imam Ahmad mengatakan:"Aku tidak tahu ada dosa yang lebih besar setelah membunuh jiwa dari pada zina".


Ya Allah jauhkan aku dari nafsu yang terkutuk,jauhkan aku dari sifat-sifat tercela.Untuk pembelajaranku sendiri,semoga bermanfaat.Amin.