Showing posts with label Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Show all posts
Showing posts with label Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Show all posts

Thursday, 5 January 2012

10 PERKARA YANG SIA-SIA












Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya 'AL FAWAID', bahwa ada sepuluh perkara yang hilang sia-sia, tak dapat memberikan manfaat sedikit pun bagi si empunya:

1· Berilmu pengetahuan, tapi tidak diamalkan.
2· Beramal, tapi tidak dilandasi ikhlas mengharap ridha Allah SWT dan meneladani Rasulullah SAW.
3· Harta yang dianggurkan, tidak dimanfaatkan untuk kenikmatan hidup di dunia dan tidak pula diinvestasikan untuk kebahagiaan hidup di akherat.
4· Hati yang kosong dari mahabbatullah dan jiwa yang merindukan selain wajah Allah SWT.
5· Badan yang diistirahatkan dari ketaatan dan berkhidmah kepada agama-Nya.
6· Rasa cinta yang tidak diikat dengan keridhaan Allah SWT dan tidak tumbuh dalam kerangka tunduk kepada perintah-Nya.
7· Waktu yang berlalu sia-sia, tiada dipergunakan untuk menambah pengetahuan, mengukir kebaikan dan taqarrub kepada-Nya.
8· Akal yang diperas untuk memikirkan hal-hal yang tak berguna.
9· Melayani orang yang tidak mendekatkan diri anda kepada Allah SWT dan tidak pula memberikan anda maslahat dan kebaikan di dunia.
10· Anda memiliki rasa takut dan berharap (memiliki ketergantungan) kepada orang yang ubun-ubunnya berada di tangan-Nya, dan menjadi tawanan di sisi-Nya, yang mana ia tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat bagi dirinya sendiri, menambah (usia) hidup dan menanggguhkan kematian serta menahan kepergiannya.

Saudaraku…
Berapa banyak asset milik kita, yang telah kita sia-siakan..ya Allah bimbinglah hidup kami agar kami senantiasa berada di jalan petunjuk dan ridha-Mu..amien.

Akar Dosa dan Maksiat (Al-Fawaid,Ibnul Qoyyim)








AKAR DOSA DAN MAKSIAT

Dosa dan maksiat seluruhnya berakar pada tiga hal:
1.Sombong, dan sifat inilah yang dimiliki Iblis sehingga dia diusir dari surga dan menjadi makhluk terlaknat (hingga tibanya hari kiamat).
2.Mengikuti bisikan syahwat, dan inilah yang telah mengeluarkan Adam dari surga.
3.Iri hati (hasad), dan inilah yang telah menyulut salah seorang anak Adam (Qabil) melakukan pembunuhan terhadap saudara kandungnya (Habil).

    Siapa saja yang mampu memelihara dirinya dari ketiga penyakit di atas, maka ia akan terbebas dari segala keburukan. Kufur terlahir akibat sombong. Maksiat terjadi lantaran (menuruti keinginan) syahwat. Durhaka dan zalim merupakan dampak buruk dari hasad. (Ibnul Qayyim rahimahullah, dalam kitab "Al Fawaid).

Saudaraku…
    Ketika ada akar kesombongan tumbuh di dalam hati kita, maka cabutlah segera sampai ke ujung-ujungnya. Sebab, bila ia dibiarkan tumbuh subur di hati kita, maka ia akan menjelma menjadi pohon kekufuran yang menjulang tinggi menutupi langit-langit jiwa kita. Yahudi, Nasrani, musyrikin Quraisy dan yang semisalnya merupakan contoh dari kesombongan yang dibiarkan mengendap di hati. Jika kita larut dalam aliran sombong karena kelebihan yang ada pada diri kita atau kejayaan yang menyapa kita, maka sadarlah bahwa kita telah mewarisi sifat Iblis, Yahudi, Nasrani dan seluruh pilar kekufuran, na'udzubillahi min dzalik.
    Nabi SAW menyebutkan indikasi adanya kesombongan dalam diri kita, "Menolak kebenaran dan merendahkan orang lain." H.R; Muslim.
    Syahwat yang merupakan fitrah manusia, jika kita kelola dan salurkan sesuai dengan koridor yang Allah ridhai, maka akan berbuah manis di dunia dan di akherat berbalas surga.
    Syahwat terhadap lain jenis; membawa kita ke gerbang pernikahan. Syahwat terhadap harta; membuka pintu perniagaan, bisnis dan yang senada dengan itu.
Namun sebaliknya jika syahwat tersalurkan di wilayah terlarang; kenistaan di dunia melekat. Dan di akherat siksa didapat.
Hasad, memicu seseorang melakukan tipu daya. Itulah warisan Iblis yang membuat perangkap tipu muslihat terhadap Adam dan Hawa, sehingga keduanya melanggar larangan-Nya.
Hasad, menjadi penyulut terjadinya pembunuhan pertama kali di permukaan bumi. Itulah yang dilakukan Qabil kepada Habil.
Hasad pula yang telah melepaskan ikatan persaudaraan dan memutus pertalian darah. Nabi Yusuf, dimasukkan saudara-saudaranya ke sumur tua disebabkan hasad yang tak berhasil disingkirkan.




Ya Rabb, kami berlindung kepada-Mu dari perasaan sombong, mengikuti bisikan hawa nafsu dan dari perilaku hasad..amien.

Saturday, 31 December 2011

Ikhlas Tempat Persinggahan "Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in" ( Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in)


         Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an.

"Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepad-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus" [Al-Bayyinah : 5]

"Artinya : Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran.  Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.  Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agamya yang bersih (dari syirik)." [Az-Zumar: 2-3]

"Artinya : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya."[All-Mulk : 2]

Al-Fudhail berkata : "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar."

Orang-orang bertanya : "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu?".

Dia menjawab, " Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima.  Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar.  Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang  dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat.

"Artinya : Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." [Al-Kahfi :110]

Allah juga berfirman.

"Artinya : Dan sipakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?" [An-Nisa' :125]

Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Sunnah beliau.

Allah juga berfirman.

"Artinya : Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan". [Al-Furqan : 23]