Monday, 13 January 2014

NIFAQ BESAR DAN NIFAQ KECIL


1.Nifaq besar

Nifaq besar yaitu menampakkan Islam dengan lisan tetapi mengingkarinya di dalam hati dan jiwa. Nifaq besar ada beberapa macam:
Mendustakan Rasulullah, atau mendustakan sebagian risalah yang beliau bawa.
Membenci Rasulullah , atau membenci sebagian risalah yang beliau bawa.
Merasa senang dengan kekalahan Islam, atau membenci kemenangan agamanya. Orang yang melakukan nifaq besar ini akan mendapatkan adzab lebih berat dari orang- orang kafir, dan bahaya mereka adalah lebih besar. Allah berfirman Subhanahu Wa Ta'ala ,

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka." (An-Nisaa': 145)

Karena itu, di awal surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyifati orang-orang kafir hanya dengan dua ayat, sedang orang-orang munafik disifatinya dengan tiga belas ayat.

Kita menyaksikan orang-orang shufi di kalangan umat Islam melakukan shalat dan puasa, tetapi mereka sungguh amat berbahaya. Karena mereka merusak aqidah umat Islam; membolehkan berdo'a kepada selain Allah yang hal itu merupakan syirik besar, Mempercayai bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala berada di setiap tempat, dan menafikan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy. Suatu hal yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadits shahih.


2 Nifaq kecil

     Nifaq kecil adalah nifaq dalam perilaku dan perbuatan. Seperti seorang muslim yang memiliki karakter dan sifat sebagaimana yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Rasulullah mengabarkan hal tersebut dalam sabdanya,

"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji tidak menepati, dan jika dipercaya khianat." (Muttafaq Alaih)

"Empat perkara, jika ada pada diri seseorang maka ia seorang munafik sejati. Dan jika salah satu daripadanya ada pada sese-orang maka ia memiliki satu sifat munafik, sehingga ia mening-galkannya, yaitu: bila berbicara dusta, bila berjanji tidak mene-pati, jika membuat persetujuan ia khianat dan bila berbantah ia (berargumentasi secara) dusta." (Muttafaq Alaih)

Nifaq yang dimaksud tidak menjadikan orang yang bersangkutan keluar dari Islam (murtad), tetapi ia termasuk dosa besar.

At-Tirmidzi berkata, "Makna nifaq dalam kandungan hadits tersebut, menurut para ahli ilmu adalah nifaq amali (nifaq dalam perilaku dan perbuatan). Sedang pada zaman Rasulullah dahulu, ia disebut nifaq takdziib (nifaq mendustakan). 30.1


 30.1: Empat pembahasan di muka, disarikan dari kitab Muqarrarut Tauhiid.       

Saturday, 10 August 2013

KOREKSI KITAB MANAQIB SYEIKH ABDUL QADIR JAILANI

     Syekh Abdul Qadir al Jailani merupakan tokoh sufi paling masyhur di Indonesia. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Tarekat Qadiriyah ini lebih dikenal masyarakat lewat cerita-cerita karamahnya dibandingkan ajaran spiritualnya. Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamahnya, Biografi (manaqib) tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban.


Nama lengkapnya adalah Abdul Qadir ibn Abi Shalih Abdullah Janki Dusat al-Jailani. Al-Jailani merupakan penisbatan pada Jilan, yaitu daerah di belakang Tabaristan. Di tempat itulah ia dilahirkan. Selain Jilan, tempat ini disebut juga dengan Jailan dan Kilan.


Kitab-kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang banyak beredar di Indonesia, pada umumnya disusun oleh penulis-penulis Indonesia yang maraji’nya (sumber pengambilan) dari kitab-kitab berbahasa Arab yang antara lain, seperti Tafrijul Khathir, Muzkin Nufus, Lujainid-Dani.


Buku-buku tentang BARJANZI versi Indonesia antara lain :
1. Madarij Al-Su’ud ila Iktisah Al-Burud – Muhammad Nawawi Bin Umar Al-Jawi Al Bantani. Berbagai Terbitan.
2. Sabil Al-Munji (berbahasa Jawa) - Abu Ahmad Abd Al-Hamid Al-Qandali (Kendal)
3. Nur Al-Lail Al-Duji wa Miftah Bab Al-Yasar (berbahasa Jawa) – Hasan Al-Attas (Pekalongan).
4. Munyah Al-Martaji fi Tarjamah Maulid Al Barjanzi (berbahasa Jawa) – Asrari Ahmad (Wonosari Tempuran).
5. Al Qaul Al-Munji Ala Ma’ani Al Barjanzi (berbahasa Jawa) – Sa’ad Bin Nashir bin Nabhan. (Surabaya).
6. Badr Al-Daji Fi Tarjamah Maulid Al-Barjanzi (berbahasa Indonesia) – M. Mizan Asrari Zain Muhammad (Sidawaya, Rembang).


Di bawah ini buku-buku Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani (asal terjemahan dari- Lujjain Al-Dani. Penulis, Ja’far Ibn Hasan Ibn ‘Abd Al-Karim Ibn Muhammmad (1690-1764) beliau juga menulis buku Al-Iqd Al Jawahir (al-Barjanzi) dan Qishshah Al-Mi’raj); di terbitkan di Indonesia dengan berbagai versi ;
1. Jauhar Al-Asnani ‘Ala Al-Lujjain Al-Dani Fi Manaqib Abd Al Qadir – Abu Ahmad Abd Al Hamid Al-Qandali (Kendal) : Al Munawwir.
2. Al-Nur Al Burhani Fi Tarjamah Al Lujjain Al-Dani – Muslih Bin Abd Al Rahman Al Maraqi (Semarang), Toha Putra.
3. Lubab Al Ma’ani Fi Tarjamah Lujjain Al-Dani – Abu Muhammad Salih Mustamir Al Hajaini (Kudus), Menara.
4. Al Nur Al-Amani Fi Tarjamah Al Lujjain Al-Dani – M. Mizan Asrari Zain Muhammad (Sidawaya Rembang) ; Terbitan sendiri.
5. Khulashah Al Manaqib Li- Al-Syaikh ‘Abd Al-Qadir ‘Abd Al Qadir Al-Jilani – Asrari Ahmad (Wonosari, Tempuran) Surabaya, ‘ Istiqomah.
6. Wawacan Kangjeng Syaikh ‘Abd Al-Qadir Jilani R.A (berbahasa Sunda) Bandung, Sindangdjaja.
7. Manaqib Syeikh Abdulqadir Jailani Radhiyallahu Anhu (berbahasa Arab dan Indonesia) – Abdallah Shonhaji. Semarang, Al-Munawir.
8. Lubabul Ma’ani – Abi Shaleh Mustamir (Juana, Jawa Tengah)
9. Miftahul Babil Amani - Moh. Hambali. (Semarang, Jawa Tengah)
10. An Nurul Burhani – A. Lutfi Hakim dkk (Semarang, Jawa Tengah)
11. Nailul Amani – A.Subhi Masyhadi. (Pekalongan, Jawa Tengah).




Koreksi Terhadap Kitab Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jailani


Dalam kitab Manaqib tersebut tertulis;


o Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah duduk selama 30 tahun dengan tidak bergeser dari tempatnya karena ketaatannya kepada nabi Khidir.


Pada waktu pertama kali masuk Irak, Syaikh Abdul Qadir Jailani ditemani Khidir, dan Syaikh belum pernah mengenalnya sebelum itu. Kemudian Khidir memberikan isyarat kepadanya agar ia tidak disalahi dan kalau sampai hal itu terjadi maka akan menjadi sebab perpisahan antara keduanya. Maka berkatalah Khidir kepadanya: “Duduklah di sini !” Maka beliaupun duduk ditempat yang ditunjuk oleh Khidir itu selama tiga tahun, yang selalu dikunjunginya setiap setahun sekali dan katanya lagi: “Janganlah engkau bergeser dari tempat itu sampai aku datang” (Lubabul Ma'ani hal. 20)


Bantahan :
Cerita ini terlalu mengada-ada. Duduk selama 3 tahun tanpa beranjak/bergeser dari tempat duduknya adalah mustahil. Bagaimana Syaikh Abdul Qadir Jailani mengambil air wudhu, Shalat Jum’at dan Shalat ‘Id ?




o Diceritakan juga bahwa Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bermimpi junub sebanyak 40 kali dalam waktu semalam. (Lubabul Ma'ani, hal. 20-21).


Bantahan :
Kebohongan yang luar biasa, cukupkah waktu untuk 40 kali tidur, 40 kali bermimpi bersetubuh dan 40 kali mandi janabat ?




o 100 ulama merobek-robek baju sendiri (Lubabul Ma'ani, hal. 23-24)


Bantahan :
Sungguh tidak masuk akal dan tidak pernah terbayang dalam angan-angan orang yang normal akalnya bahwa seorang yang saleh dan ulama yang ikhlas seperti Syaikh Abdul Qadir Jailani sampai hati melihat para ‘aimmah merobek-robek pakainnya dan bertingkah polah seperti orang yang tidak waras.




o Di antara kekeramatan Syaikh Abdul Qadir Jailani, bahwa seekor burung Elang yang terbang di atas majlis syaikh, dimohon kepada angin agar dipenggal leher burung tersebut, maka putuslah leher burung Elang tersebut. (Lubabul Ma'ani, hal. 59)


Bantahan :
Burung adalah binatang yang tidak dibekali akal seperti manusia dan tidak dibebani tata tertib hidup serta tidak terikat dengan berbagai aturan sesamanya. Ia terbang mengikuti naluri hayawani tanpa memperdulikan apakah ada makhluk lain yang terganggu olehnya. Maka alangkah teganya hati Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk membunuh burung Elang tersebut.


أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu”. (QS. Al Mulk : 19).


أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nur : 41).




o Diantara kekeramatan lainnya. Matinya seorang pelayan karena sorotan mata Syaikh Abdul Qadir Jailani karena kesalahannya tidak sudi meletakkan kendi kearah kiblat. (Lubabul Ma'ani, hal. 58-59)


Bantahan :
Peristiwa kesalahan yang tidak patal sehingga membuat Syaikh Abdul Qadir Jailani untuk membunuh, apakah mungkin dilakukan bagi seorang syaikh yang berakhlaq mulia ?




o Syaikh Abdul Qadir Jailani meramal nasib (Lubabul Ma'ani, hal. 59-64)


Bantahan :
Mirip Mama Lauren aja.




o Syaikh Abdul Qadir Jailani menjamin para muridnya masuk surga (Lubabul Ma'ani, hal. 80-81)


Bantahan :
Lebih hebat daripada Rasulullah

TRADISI MANAQIBAN YANG SALAH KAPRAH

     Salah satu acara ritual yang menjadi tradisi sebagian masyarakat adalah manaqiban. Selain memiliki aspek seremonial, manaqiban juga memiliki aspek mistikal. Sebenarnya kata manaqiban berasal dari kata ‘manaqib’ (bahasa Arab), yang berarti biografi, kemudian ditambah dengan akhiran ‘an’ (bahasa Indonesia) menjadi manaqiban yang berarti kegiatan pembacaan manaqib (biografi) Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani, seorang wali yang sangat legendaris di Indonesia.

     Kalau dilihat secara ilmiah kitab manaqib itu memang tidak istimewa. Tetapi tampaknya dalam kehidupan para penganut tarekat, manaqiban merupakan kegiatan ritual yang tidak kalah sakralnya dengan ritual-ritual lain. Bahkan manaqiban ini dilaksanakan oleh kebanyakan masyarakat dan santri pedesaan di Pulau Jawa dan Madura.

Isi kandungan kitab manaqib itu meliputi silsilah nasab Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani, sejarah hidupnya, akhlaq dan karomah-karomahnya, di samping itu tercantum juga doa-doa bersajak (nadham) yang bermuatan pujian dan tawassul (berdoa kepada AllohSubhanahu wa Ta’ala melalui perantaraan ) Syaikh ‘Abdul Qodir.

Harapan para pengamal manaqib untuk mendapat keberkahan dari pembacaan manaqib ini didasarkan atas adanya keyakinan bahwa Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani adalah quthb al-’auliya (wali quthub) yang sangat istimewa, yang dapat mendatangkan berkah dalam kehidupan seseorang. Hal ini dapat dipahami dari sya’ir berikut:

عِبَادَ اللهِ رِجَالَ اللهْ أَغِيْثُـوْنَا لأَجْـلِ اللهْ

وَكُوْنُوْا عَوْننَاَ لِلَّهْ عَسَى نَحْظَى بِفَضْلِ اللهْ

عَلَى اْلكَافِيْ صَلاَةُ اللهْ عَلَى الشَّافِيْ سَلاَمُ اللهْ

بِمُحْيِ الدِّيْنِ خَلِّصْنَا مِنَ اْلبَلْــوَاءِ يَا اَللهْ

وَيَا أَقْطَابْ وَيَا أَنْجَابْ وَيَا سَادَاتْ وَيَا أَحْبَابْ

وَأَنْتُمْ يَاأُولِي اْلأَلْبَابْ تَعَالَوْا وَانْصُرُوْا لِلَّهْ

سَأَلْنَاكُمْ سَأَلْنَاكُمْ وَلِلزُّلْفَى رَجَوْنَاكُمْ

وَفِيْ أَمْرٍ قَصَدْنَاكُمْ فَشُدُّوْا عَزْمَكُمْ للهْ

Artinya:

“Wahai para hamba Alloh dan tokoh-tokohnya Alloh…

tolonglah kami karena Alloh.

Jadilah tuan semua penolong kami karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala …

semoga kami berhasil meraih karunia Alloh.

Shalawat Alloh semoga terlimpah atas al-Kafi (yang mencukupi yakni RosulullohShallallahu alaihi wa sallam ), dan semoga keselamatan dari Alloh terlimpah atas asy-Syafi (yang menyembuhkan yakni Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam).

Dengan kemuliaan Muhyiddin (yakni Syaikh ‘Abdul Qodir)…

lepaskanlah kami dari berbagai macam musibah wahai Alloh…

Wahai para wali quthub, wahai orang-orang yang baik, wahai para tuan-tuan dan para kekasih…

Dan kalian wahai orang-orang yang berakal sempurna…

kemarilah dan tolonglah kami karena Alloh.

Kami meminta kepada kalian, kami meminta kepada kalian…

Karena kedekatan (kalian di sisi Alloh ) kami mengharap kepada kalian.

Untuk suatu perkara kami menghadapkan diri kepada kalian…

maka kencangkanlah tekad kalian (untuk menolong kami) karena Alloh.”

Tetapi dari sekian banyak muatan mistis dan legenda tentang Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani, yang paling dianggap istimewa dan diyakini memiliki berkah besar dalam upacara manaqiban adalah karena dalam kitab manaqib terdapat silsilah nasab Syaikh. Dengan membaca silsilah nasab ini seseorang akan mendapat berkah yang sangat banyak.

Secara umum diterimanya ritual manaqiban ini oleh para Kiai di Indonesia dan di Jawa khususnya, karena di dalam manaqib disebut-sebut nama para nabi dan orang-orang sholih, khususnya pribadi Syaikh sendiri. Hal tersebut diyakini sebagai suatu amal sholih (kebaikan), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

ذِكْرُ اْلأَنْبِيَاءِ مِنَ اْلعِبَادَةِ وَذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ كَفَّارَةٌ وَذِكْرُ الْمَوْتِ صَدَقَةٌ وَذِكْرُ اْلقَبْرِ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ .

“Mengingat para Nabi adalah ibadah, mengingat orang-orang sholih adalah kafarat (penghapusan dosa), mengingat kematian adalah shadaqah, dan mengingat kubur akan mendekatkan kalian ke surga.” (HR. ad-Dailami).

Disamping karena motifasi kafarat (penghapusan dosa) tersebut, kebanyakan masyarakat pengamal manaqib pun meyakini bahwa ritual manaqiban mendatangkan banyak manfaat seperti kesuksesan usaha, terkabulnya doa, dan berkah-berkah lain sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Pelaksanaan manaqiban di dalam masyarakat biasanya diadakan dalam rangka selamatan, tasyakuran dan kegiatan-kegiatan penting lainnya.

Para pengamal manaqiban meyakini bahwa ritual ini adalah suatu wasilah (syari’at) agar hajatnya tercapai dan terkabul. Di saat pembacaan manaqib sebagian jamaah menghadirkan botol-botol berisi air yang diletakkan di depan guru dengan keyakinan bahwa air yang telah dibacai manaqib tersebut akan membawa keberkahan.

BEBERAPA CATATAN PENTING DALAM RITUAL MANAQIB

Di dalam ritual manaqiban ini terdapat beberapa kemungkaran yang membuatnya bukan termasuk amal sholih apalagi diyakini bisa membawa keberkahan. Kemungkaran-kemungkaran tersebut di antaranya ialah:
Ber-istighatsah kepada Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani dan para wali dalam memohon pertolongan dan dilepaskan dari kesulitan. Dengan kata lain meminta dan berdoa kepada Syaikh.

Hal itu terlihat jelas dalam bait-bait berikut:

“Wahai para hamba Alloh dan tokoh-tokohnya Alloh…

tolonglah kami karena Alloh.

Jadilah tuan semua penolong kami karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala…

semoga kami berhasil meraih maksud dengan keutamaan Alloh.

Wahai para wali quthub, wahai orang-orang yang baik, wahai para tuan-tuan dan para kekasih…

Dan kalian wahai orang-orang yang berakal sempurna,

kemarilah dan tolonglah kami karena Alloh.

Kami meminta kepada kalian, kami meminta kepada kalian…

Karena kedekatan (kalian di sisi Alloh ) kami mengharap kepada kalian.

Untuk suatu perkara kami menghadapkan diri kepada kalian,

maka kencangkanlah tekad kalian (untuk menolong kami) karena Alloh.”

Padahal berdoa dan istighatsah adalah hak Alloh semata dan hanya boleh ditujukan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Berdoa termasuk salah satu ibadah, dan ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak boleh dipersembahkan kepada selain-Nya. Bukankah seorang Muslim dalam setiap shalatnya berikrar di hadapan Alloh Subhanahu wa Ta’ala:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS. al-Fatihah [1]: 5).

Lantas mengapa di luar shalat ia meminta kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala? Bukankah ini suatu pelanggaran atas ikrar tersebut?

Sesungguhnya menyeru kepada selain Alloh adalah suatu kezhaliman yang besar. Alloh berfirman:

“Dan janganlah kamu memohon kepada kepada sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Alloh; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zhalim.” (QS. Yunus [10]: 106).

Sebenarnya orang-orang yang telah meninggal itu tidak tahu menahu dan tidak sadar bahwa ada sebagian orang yang memohon kepadanya. Oleh karena itu, memohon kepada para wali quthub yang telah wafat adalah bukti akan kelemahan akal pelakunya. Ia berpaling dari Dzat Yang Maha Mendengar lagi Mengabulkan doa lalu meminta kepada seorang hamba yang tidak mendengar doa orang-orang yang meminta kepadanya. Adakah kelemahan akal yang lebih parah dari ini? Perhatikanlah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikut:

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada sesembahan-sesembahan selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. “ (QS. Al-Ahqaaf [46]: 5).

Tawassul kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dengan seorang sholih yang telah meninggal dalam artian menjadikan seseorang sebagai perantara dalam doanya kepada AllohSubhanahu wa Ta’ala adalah suatu kesyirikan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ia bukanlah tawassul meskipun para pengamalnya menamakan itu sebagai tawassul. Renungkanlah peringatan Alloh berikut ini:

“Barangsiapa yang memohon di samping Alloh sesembahan yang lain padahal tidak ada hujjah baginya, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada akan beruntung.” (QS. al-Mukminun [23]: 117)

“Dan orang-orang yang kalian mohon selain Alloh mereka tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, maka mereka tiada mendengar seruan kalian; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat kelak mereka akan mengingkari kemusyrikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Dzat Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fathir [35]: 13-14).

AllohSubhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam ayat ini, bahwa hanya Dia-lah yang Maha Berkuasa dan Mampu mengurus segala sesuatu, bukan selain-Nya. Dan bahwasanya para sesembahan itu tidak dapat mendengar doa, apalagi untuk mengabulkan doa tersebut. Kalaupun seandainya mereka dapat mendengar, maka mereka tidak akan mampu mengabulkannya, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat atau menolak mudharat.

Jika di dalam ritual manaqiban tersebut tidak terdapat kemungkaran selain ini, yaitu ber-istighotsah dan berdoa kepada selain Alloh, niscaya ini sudah cukup menjadi alasan yang sangat kuat untuk meninggalkan tradisi ini. Karena, kesyirikan adalah suatu kemungkaran terbesar dan kezhaliman terberat. Semua dosa masih mungkin diampuni oleh AllohSubhanahu wa Ta’ala selain syirik. Sedangkan syirik, jika pelakunya tidak bertaubat sampai meninggalnya, maka surga diharamkan baginya. Renungkanlah firman AllohSubhanahu wa Ta’ala berikut ini:

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutu-kan Alloh, maka sungguh Alloh mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. al-Ma’idah [5]: 72)
Adanya ghuluw (sikap berlebih-lebihan) dalam menyanjung dan memposisikan Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani. Ini bisa dilihat jelas oleh siapapun yang membaca dan memahami kitab manaqib.
Hukum mengadakan ritual dan peringatan semacam manaqiban ini tidak berbeda dengan hukum memperingati maulid NabiShallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu terlarang. Karena, hal ini termasuk menambahkan sesuatu yang baru dalam agama. Sedangkan hal ini dilarang keras dalam syariat Alloh dan Rasul-Nya.
Bertawassul dengan kedudukan atau kemuliaan Syaikh dalam berdoa kepada AllohSubhanahu wa Ta’ala. Meskipun ini bukan termasuk syirik akan tetapi ia adalah suatu bid’ah dan sarana menuju kesyirikan. Tawassul tersebut di antaranya pada bait berikut:

“Dengan kemuliaan Muhyiddin (yakni Syaikh ‘Abdul Qodir)… lepaskanlah kami dari berbagai macam musibah ya Alloh…”

Catatan penting:
Jika ada yang berkata, “Kami meminta kepada mereka adalah agar mereka berdoa kepada Alloh untuk kami. Sebenarnya kami tidaklah meminta kepada mereka, akan tetapi meminta supaya mereka mendoakan kami.”

Jawabannya: Hal ini adalah kesesatan dan kebodohan, karena mayit-mayit itu tidaklah mampu memperkenankan permintaan kalian, artinya mereka tidaklah mampu berdoa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala agar mengabulkan permintaan kalian, karena manusia itu apabila telah meninggal maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ.

Dari Abu Huroiroh Radiyallahu ‘anhu bahwasanya Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Maka mereka tidak memiliki amal sama sekali setelah meninggal dan tidak pula bisa berdoa untuk mereka setelah meninggal, dan mereka tidak dapat mengabulkan doa bagi seorang pun.
Jika ada yang berkata, “Bukankah ‘Umar Radiyallahu ‘anhu pernah bertawassul dengan Abbas bin ‘Abdul Muththalib Radiyallahu ‘anhu pada saat terjadinya kemarau panjang dan ia berkata, ’Ya Alloh dahulu kami bertawassul dengan Nabi kami hingga Engkau menurunkan hujan kepada kami.’?”

Jawabannya: Dalam shahih Bukhori terdapat hadits, “Dari Anas bin Malik, bahwasanya ‘Umar bin Khaththab Radiyallahu ‘anhujika terjadi kekeringan, maka beliau berdoa agar diturunkan hujan dengan bertawassul melalui perantaraan Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib. ‘Umar berkata, ’Ya Alloh, dahulu kami bertawassul dengan Nabi kami hingga Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami’. Kemudian turunlah hujan.” (HR. al-Bukhori).

Maksud bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam atsar di atas bukanlah “Bertawassul dengan memohon kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi maksudnya adalah bertawassul dengan doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yakni mereka datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memohon kepada beliau agar berdoa kepada AllohSubhanahu wa Ta’ala untuk mereka. Oleh karena itu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, para sahabat tidak bertawassul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi bertawassul dengan doa paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -yaitu ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib Radiyallahu ‘anhu- yang saat itu masih hidup.
Manakah yang lebih mulia dan utama, para wali ataukah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentulah Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika demikian halnya, adakah salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meminta kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah wafatnya agar beliau berdoa untuk mereka? Para shahabat Radiyallahu ‘anhum tidak pernah melakukannya, padahal mereka sangat mencintai dan memuliakan RosulullohShallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena mereka mengetahui bahwa tawassul dengan orang yang sudah mati dan memohon kepadanya termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari Islam.
Jika ada yang berkata, “Kami pernah mempunyai suatu hajat, lalu kami melakukan manaqiban, maka alhamdulillah hajat kami dikabulkan oleh Alloh. Bukankah ini suatu bukti bahwa manaqiban adalah suatu wasilah yang diterima oleh Alloh?

Jawabannya: Yang harus kita ketahui, jika Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan hajat seseorang setelah ia melakukan manaqiban, maka itu bukanlah karena manaqiban tersebut akan tetapi sebenarnya Alloh menguji orang tersebut dengan suatu perkara yang Dia haramkan. Dengan kata lain ini adalah suatu istidroj dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala.Istidroj artinya Alloh Subhanahu wa Ta’ala menarik hamba-Nya kepada kebinasaan secara berangsur-angsur dan dengan cara yang tidak ia sadari. Ujian dalam bentuk memudahkan kemaksiatan adalah suatu perkara yang terjadi pada umat-umat terdahulu dan juga pada umat ini. Sebagai contohnya ialah apa yang terjadi pada umat Nabi Dawud . Alloh berfirman:

“Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang penduduk negeri yang terletak di dekat laut, ketika mereka melanggar larangan Alloh pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan laut, dan di hari-hari yang bukan Sabtu ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan kefasikan mereka.” (QS. al-A‘roof [7]: 163).
Bagaimana dengan hadits yang dijadikan dalil oleh para pengamal manaqib? Yaitu hadits yang berbunyi:

ذِكْرُ اْلأَنْبِيَاءِ مِنَ اْلعِبَادَةِ وَذِكْرُ الصَّالِحِيْنَ كَفَّارَةٌ وَذِكْرُ الْمَوْتِ صَدَقَةٌ وَذِكْرُ اْلقَبْرِ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ .

“Mengingat para Nabi adalah ibadah, mengingat orang-orang sholih adalah kafarat (penghapusan dosa), mengingat kematian adalah shadaqah, dan mengingat kubur akan mendekatkan kalian ke surga.” (HR. ad-Dailami).

Jawabannya: Hadits tersebut dinilai maudhu’ (palsu) oleh para ulama hadits karena di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Ibnu al-Asy’ats. Dia ini dituduh pendusta oleh para ulama hadits.

SEKILAS TENTANG SYAIKH ‘ABDUL QODIR AL-JAILANI

Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani lahir pada tahun 490/471 H di kota Jailan… wafat pada hari Sabtu malam, ba’da Maghrib, pada tanggal 9 Rabi’ul Akhir tahun 561 H di daerah Babul Azaj. Beliau meninggalkan tanah kelahiran, merantau ke Baghdad pada saat beliau masih muda. Di Baghdad beliau belajar kepada beberapa orang ulama seperti Ibnu Aqil, Abu al-Khatthat, Abu al-Husein Al Farra’ dan juga Abu Sa’ad Al Mukharrimi. Beliau belajar sehingga mampu menguasai ilmu-ilmu ushul dan juga perbedaan-perbedaan pendapat para ulama.

Untuk menelusuri aqidah Syaikh ‘Abdul Qodir Al-Jailani Rahimahullah kita mesti membaca kitab al-Ghunyah li Thoolibi Thoriiq al-Haq, sebuah kitab yang ditulis oleh beliau sendiri.

Dari kitab tersebut kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa Syaikh ‘Abdul Qodir al-JailaniRahimahullah adalah seorang ulama Ahlus Sunnah.


Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang benar dalam aqidah dan peribadatannya. Bukan seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa Ahlus Sunnah adalah nama untuk golongan atau jam’iyyah tertentu seperti NU misalnya. Tetapi Ahlus Sunnah adalah semua kaum muslimin yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengikuti cara beragama para sahabat Radiyallahu ‘anhum.



Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani Rahimahullah sendiri pernah mengatakan bahwa dalam hal pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, beliau mengikuti manhaj (metode beragama) para imam Ahlus Sunnah. Akan tetapi sebagian orang berlebih-lebihan danghuluw dalam menyanjung dan mengagungkan Syaikh sehingga mengarang-ngarang kisah-kisah karomah Syaikh.

Ibnu Rajab Rahimahullah juga berkata, “Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani Rahimahullahadalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, baik ulama dan para ahli zuhud. Beliau memiliki banyak keutamaan dan karomah. Tetapi ada seorang yang bernama Abu Hasan Syathnufi mengumpulkan kisah-kisah keutamaan(manaqib) Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani dalam tiga jilid kitab. Dia telah menulis perkara-perkara yang aneh. Dan cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta jika dia menceritakan segala yang dia dengar. Aku telah melihat sebagian kitab ini dan hatiku tidak tentram untuk mempercayainya. Oleh karena itu, aku tidak mau meriwayatkan apa yang ada di dalamnya. Kecuali kisah-kisah yang telah masyhur dan terkenal dari selain kitab ini. Kitab ini banyak menukil riwayat dari orang-orang yang tidak dikenal (majhul). Juga terdapat perkara-perkara yang sulit diterima, kesesatan-kesesatan, klaim-klaim dan perkataan batil yang banyak. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada Syaikh ‘Abdul Qodir al-Jailani Rahimahullah. Kemudian aku dapatkan bahwa al-Kamal Ja’far al-Adfawi telah menyebutkan bahwa Syathnufi sendiri tertuduh berdusta dalam kisah-kisah yang diriwayatkannya pada kitab ini.”

‘Ali bin Idris, seorang murid Syaikh pernah bertanya kepada Syaikh ‘Abdul Qodir al-JailaniRahimahullah, “Wahai tuanku, apakah Alloh memiliki wali yang tidak berada di atas aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?” Maka beliau menjawab, “Tidak pernah ada dan tidak akan ada.”

Sunday, 30 June 2013

KISAH ISTRI SHALIHAH



kisah Nyata yang dapat di Ambil Ibrah..
saya nukil dari status Al-Firqah An-Najiyah.

KISAH JANDA MUDA SURIAH

Biasanya pasangan pengantin baru akan melalui hari-harinya dengan penuh keindahan dan kesenangan, serta tidak sedikit dari mereka yang pergi ke tempat rekreasi untuk berbulan madu.

Hal itu tidak berlaku bagipengantin baru di Suriah. Tidak
ada kata bersantai-santai atau bercumbu mesra seharian dengan pasangan, tetapi sang istri harus menyiapkan peralatan perang untuk suaminya, inilah kurang lebih yang diceritakan Fathi At-Tamimi, relawan Indonesia untuk Suriah yang saat
ini berada di Turki dalam status Facebooknya pada Rabu (22/08).
Dia menuturkan, Perempuan 20 tahun hafal Al-Qur’an itu dengan berlinang airmata menjahit sendiri baju tempur suaminya yang baru dinikahi dua mınggu saat pertempuran pertama memanggil para patriot membela agama.
Kemudian mengenakannya pada suatu malam yang diisi satu doa dibaca
agak keras berulang-ulang saat sujud panjang.
“Bila suamiku adalah milik para Bidadari-Mu,Jangan kembalikan ia padaku,

Bariskan sebanyak mungkin mereka di pintu langit untuk menjemputnya.
Tapi bila berjodoh sampai lama,Jangan Engkau biarkan sebuah lubangpun pada pakaian ini.

Aku akan bergembira apapun keputusan-Mu
Dan jadikanlah ia pendampingku di dunia dan di Surga.”
Sang suami yang mengintip adegan tersebut lalu bertempur bagai singa luka, tiga tank dirusak sendirian, Maju paling depan kembali paling belakang, Belum pernah punggungnya dilihat musuh, Melegenda dıantara kawan lawan, dibakar doa dan kepasrahan istri tercinta.

Disaat yang sama, istrınya bekerja keras membantu korban-korban perang, menghibur mereka,menjamin sandang pangan papan, merawat luka, mendoakan para pejuang, menjadi pemimpin grup relawan terdiri dari keluarga mujahidin atau yang ditinggalkan.

Ketika akhirnya Bidadari Surga menjemput suaminya di pintu langit, Para komandan grup seluruh Suriah bahkan yang bermarkas di gunung-gunung datang atau mengirim utusan berbela sungkawa;

“Suamimu, Abu Umar, Adalah pahlawan dan kebanggaan kami, Semoga akan banyak laınnya di negeri ini.”

Ketika banyak orang kaya di negara-negara Arab mendengar kisah beliau, Mereka berlomba melamarnya, Tapi beliau enggan dan membaktikan hıdupnya demi rakyat, berjanjı tıdak akan menikah lagi hingga Suriah bebas dari rezim Syi’ah. Perempuan itu namanya perlahan mulai berkibar, Jadi contoh ketabahan gadis-gadis lain dan
sekarang dijulukı "Oummus Suuri,
Ibunya Suriah". Namanya Ahlam Al-
A’ini darı Homs.

Kisah ini dicerıtakan langsung
oleh salah satu korban perang
yang sempat dırawat oleh beliau
di RS. lapangan di Homs dan
sekarang berada di kamp
pengungsian di Turki.

Wednesday, 1 May 2013

LELAHNYA HIDUP SENDIRI

oleh:Ust Abu Ja'far untuk Lajangiyyun.

"Lelahnya Hidup Menyendiri"
Saudaraku.. Suatu senja, saat angin sepoi-sepoi menyapa wajah, ada seorang teman yang menyanyikan gending-gending hatinya. Ia berbicara dari relung hatinya yang paling dalam. Matanya berkaca-kaca menerawang jauh membelah zaman. Tetesan bening berjatuhan dari kelopak matanya yang sayu. Ia mengungkapkan angan-angannya perihal seorang dara manis tambatan hatinya, yang selalu memenuhi cakrawala pikirannya.

Hasrat dan dorongan alamiah untuk mempunyai teman hidup telah banyak menyita konsentrasinya. Terlebih usia yang semakin merambat naik. Daya serap terhadap suatu ilmu pengetahuan tidaklah setajam dulu. Konsentrasi dalam menjalani hidup seolah-olah hilang seiring dengan perginya musim dingin.

Shalat yang dilakukannya sangat jauh dari kata khusu’. Ketika membaca do'a iftitah, "Ya Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan es," yang muncul justru bayangan puteri salju melambai-lambai menarik simpati. Demikianlah semakin lama, bacaan shalat pun semakin hilang dari nilai penghayatan.

Hidup menyendiri memang sangat melelahkan. Jiwa lunglai karena didera oleh perasaannya sendiri. "Kesendirian adalah kumpulan duka nestapa", demikian Khalil Gibran menyindir para lajang.

Wajar, jika syekh Mustafa Siba'i menggambarkan,

ADZAB KUBUR

Tahukah anda?

Setiap kali Khalifah Utsman bin Affan berdiri di pinggir kuburan,mbeliau selalu menangis,mhingga Air matanya membasahi jenggotnya.

Melihat pemandangan ini, sebagian orang bertanya kepada beliau:

Wahai Khalifah Utsman, ketika engkau mengingat surga dan neraka, engkau tidak menangis seperti ini. Namun setiap kali melihat kuburan, engkau menangis tersedu-sedu.

Khalfah Utsman menjawab: Aku melakukan hal ini, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
«الْقَبْرُ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ، فَإِنْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ»
Kuburan adalah tempat pertama yang akan engkau datangi pada perjalanan hidupmu di akhirat.

Bila engkau selamat di alam kuburan maka semua perjalananmu setelahnya lebih mudah. Namun bila engkau celaka di alam kuburan, maka perjalananmu selanjutnya lebih mengerikan." ( Ahmad dan lainnya)

HAJI DA UMRAH TANPA TERGANJAL KUOTA DAN TANPA BIAYA

HAJI DAN UMRAH TANPA BIAYA DAN TAK TERGANJAL KUOTA
Oleh:Ust Abu Ja'far

َﺗَﺎﻣَّﺔٍ ﺗَﺎﻣَّﺔٍ ﺗَﺎﻣَّﺔٍﻛَﺄَﺟْﺮِ ﺣَﺠَّﺔٍ ﻭَﻋُﻤْﺮَﺓٍ ﺗَﻄْﻠُﻊَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺛُﻢَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُﺣَﺘَّﻰ ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓَ ﻓِﻲ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﺛُﻢَّ ﻗَﻌَﺪَ ﻳَﺬْﻛُﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪ "Barangsiapa yang melaksanakan shalat Subuh dengan berjama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu ia shalat dua raka'at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” HR. Tirmidzi.

Saudaraku, Setiap orang yang jujur dengan keimanannya, tulus dalam azamnya, pasti mendamba dapat mengunjungi rumah kekasihnya, Allah swt. Seberapapun jarak yang harus ditempuhnya. Seberapapun biaya yang harus dikeluarkannya. Seberapapun waktu yang harus dihabiskannya.

Bersimpuh di Baitullah (rumah Allah), merupakan cita-cita terbesar umat Islam di belahan bumi manapun. Baik di Timur maupun Baratnya. Terlebih bagi kita yang mendapat keluasan rezki dan memiliki fisik yang prima. Sebab ibadah haji merupakan jalan pintas menuju surga. Haji dan umrah bukan sekadar paket rihlah ruhani biasa. Tapi, ia bergaransi surga dan pelebur kesalahan dan dosa.

Rasulullah saw bersabda, "Antara satu umrah ke umrah berikutnya sebagai penebus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga." (H.R; Bukhari).

Berapa banyak air mata yang tertumpah, karena harapan mengunjungi Ka'bah al Musyarrafah tak kunjung terwujud di alam realita. Mungkin karena biaya yang dibutuhkan belum terkumpul. Atau lantaran kondisi fisik yang sering didera sakit parah. Atau terganjal kuota, di mana kita harus menunggu sepuluh tahun untuk dapat berangkat ke sana jika tahun ini kita baru mendaftarkan diri.

Adakah di antara kita yang tak ingin masuk surga dan terhapus kesalahan dan dosa-dosanya? Tentu tidak ada. Selama ada iman di dada kita walaupun hanya setebal kulit ari. Dan semua kita pun sadar, bahwa tidak mudah masuk ke dalam surga. Karena surga merupakan barang dagangan Allah yang tak murah harganya. Dan tak mudah untuk menggapainya.

Saudaraku, Jika kita termasuk mereka yang bersedih, karena belum mampu mengunjungi baitullah, maka kita tak perlu berlama-lama larut dalam kesedihan. Jangan kita biarkan hati kita gelisah dan khawatir berlebihan menunggu panggilan-Nya yang masih sayup-sayup terdengar di telinga kita.

Selama kita berupaya maksimal mencari jalan menuju ke rumah-Nya. Selama semangat kita mengunjungi baitullah tetap membara dan menggelora. Tak lapuk ditelan masa. Tak sirna termakan usia. Maka jalan menuju ke sana terbentang luas di hadapan kita. Bahkan kita dapat mengunjungi baitullah setiap hari, jika kita mau. Tidak menunggu waktu sampai satu tahun. Dan tak perlu mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah. Tak tersandung kuota. Berbahagialah bagi kita yang mampu memaksimalkan peluang ini.

Saudaraku, Syekh Muhammad Jam'ah al Halbusi, menyebutkan dalam salah satu artikelnya bahwa ada beberapa amalan yang pahalanya sebanding ibadah haji atau umrah. Di antaranya:

Pertama, berniat dengan sungguh-sungguh untuk mengunjungi baitullah. Dengan niatan yang tulus suci akan mengelompokan kita dalam kafilah haji dan umrah walaupun kita tidak berada di tengah-tengah mereka. Karena ada uzur yang membatasi keinginan kita.

Imam Bukhari meriwayatkan, bahwa sekembalinya Nabi saw dari perang Tabuk dan Madinah sudah berada di depan mata, beliau bersabda kepada para sahabatnya,

“Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang, yang kalian tidak menempuh sebuah perjalanan dan tidak melewati sebuah lembah; melainkan mereka bersama-sama kalian, mereka terhalangi udzur berupa sakit” dan dalam riwayat yang lain, “Melainkan mereka berkongsi dengan kalian dalam pahala”, H.R Bukhari.

Karena niat yang ikhlas dan tulus disertai dengan kesungguhan usaha maksimal, sebagian sahabat mendapatkan pahala berjihad di jalan Allah. Walaupun jasad mereka tidak bersama para mujahidin. Namun hati dan semangatnya selalu menyertai mereka. Sakit dan uzur lainnya yang menghalangi mereka tidak berangkat ke Tabuk. Dan bukan karena malas atau takut berjihad seperti yang diperbuat oleh kaum munafikin.

Demikian pula dengan ibadah haji. Selama niat yang menggelora telah menghujam di dada. Do'a kepada yang di atas telah ditengadahkan. Usaha maksimal telah dilakukan. Namun karena ada uzur yang melekat di tubuh kita, baik karena biaya maupun uzur lain seperti sakit dan yang senada dengan itu. Insyaallah, kita tercatat di sisi-Nya sebagai orang yang berhaji di jalan Allah swt.

Kedua; Melaksanakan shalat sunnah dua raka'at di waktu syuruq (terbit matahari), yang di awali dengan shalat Subuh berjama'ah di masjid lalu duduk berzikir kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda,

"Barangsiapa shalat Subuh berjama’ah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, setelah itu ia shalat dua raka'at, maka baginya seperti pahala haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.” HR. Tirmidzi.

Saudaraku, Ada pertanyaan yang menggelayut di benak kita, apakah Nabi saw biasa melakukan shalat syuruq ini? Tentu saja, karena beliau adalah suri tauladan kita di semua lini kehidupan kita.

Imam Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Umar ra berkata, "Adalah Nabi saw selepas shalat Subuh, beliau tidak meninggalkan majlisnya sehingga beliau melakukan shalat. Beliau bersabda, "Siapa yang shalat Subuh (di masjid), lalu ia tetap duduk di majlisnya sehingga ia menunaikan shalat (sunnah), maka amalannya itu sebanding dengan haji dan umrah yang maqbul (diterima)."

Ketiga; Menghadiri majlis ilmu di masjid. Imam Thabrani dan Hakim meriwayatkan dari Abu Umamah dari Nabi saw bersabda, "Siapa yang bergegas pergi ke masjid. Tujuannya tidak lain kecuali untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya kepada orang lain, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan haji secara sempurna."

Namun ironinya, banyak masjid yang megah dan mentereng di sekitar kita, tapi di dalamnya sepi dari majlis ilmu. Seolah-olah masjid dibangun hanya sekadar untuk pelaksanaan shalat lima waktu belaka.

Padahal di zaman Nabi saw, masjid selain sebagai tempat ibadah. Ia juga berperan sebagai madrasah tempat menimba ilmu. Sebagai markas pengkaderan para sahabat. Menyelesaikan persoalan masyarakat dan umat. Membahas strategi perang dan seterusnya.

Keempat, Keluar menuju masjid dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu dan shalat dhuha.

Abu Umamah ra meriwayatkan, bahwa Nabi saw bersabda, ”Barangsiapa bersuci dari rumahnya, kemudian ia keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat fardhu, maka pahalanya seperti pahala seorang haji dalam keadaan ihram. Dan barangsiapa yang menunaikan shalat dhuha, maka pahalanya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah umrah.” (H.R; Abu Daud).

Kelima, melaksanakan umrah di bulan Ramadhan. "Umrah di bulan Ramadhan sebanding haji bersamaku." Demikian sabda Nabi saw dalam riwayat Muttafaq alaih.

Keenam, Berbakti kepada kedua orang tua. Karena Rasulullah saw pernah berwasiat kepada salah seorang sahabat untuk berbakti kepada ibu (karena tinggal ibunya yang masih hidup), lalu beliau bersabda, ”Bertakwalah kepada Allah dengan cara berbakti kepada ibumu. Jika engkau lakukan yang demikian itu, maka engkau seperti orang yang menunaikan haji, umrah, dan orang yang berjihad.” (H.R; Thabrani dan Baihaqi).

Saudaraku, Itulah beberapa amalan yang pahalanya setara dengan pahala orang yang sedang berhaji dan berumrah. Dan ini merupakan bukti kemurahan Islam. Di mana semua umat Islam, bisa meraih pahala haji dan umrah. Yang dapat dikejar oleh siapa saja. Bahkan oleh orang yang tak berharta. Tak memiliki jabatan. Tua renta. Dan siapa saja. Dimanapun dan bagaimanapun keadaannya.

Namun yang perlu kita pahami saudaraku, Bahwa amal-amal ini tidak menggugurkan kewajiban berhaji dan berumrah. Orang-orang yang telah mengerjakan amal-amal ini tetap wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah. Tentu bagi mereka yang mampu dan mendapat kelapangan rezki.

Saudaraku, Selanjutnya terserah kita. Apakah kita ingin meraih pahala haji dan umrah yang terbentang di hadapan kita. Atau kita membiarkan diri kita tertinggal jauh dari orang-orang yang Allah beri keluasan harta terhadap mereka. Di mana mereka bisa mengunjungi baitullah kapan mereka mau. Sementara kita hanya mampu meneteskan air mata kesedihan.

Jika kita tak mampu melakukan amal-amal di atas yang pahalanya sebanding haji dan umrah. Memang kita layak untuk menangis. Menangisi kelemahan azam dan kerapuhan semangat ubudiyah kita. Menangisi diri kita yang telah mati. Meskipun nafas masih di kandung badan.

Yah, kita telah mengalami kematian hati dan semangat. Di mana hati kita tak lagi dapat menggerakkan anggota tubuh kita untuk mendaki puncak ubudiyah. Dan membiarkannya terlempar ke jurang kemalasan dan keringkihan ruhani. Wallahu a'lam bishawab.

DERAJAT HADITS "Membaca Surat Yasin Di Hari Jum'at Dikuburan Kedua Orangtua"

   Dari Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa berziarah kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, kemudian membaca surat Yasin, maka dia akan diampuni sebanyak ayat dan huruf surat itu.” (HR. Ad Dailami)
Ustadz, hadits Ad Dailami termasuk dhaif? (Hafizh Nashir)

Jawaban:
Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d
Bunyi hadits tersebut adalah sebagai berikut:
من زار قبر والديه كل جمعة ، فقرأ عندهما أو عنده ( يس ) غفر له بعدد كل آية أو حرف ”
Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya, lalu dia membaca di sisi keduanya atau salah satunya surat Yasin, maka dia akan diampuni sebanyak ayat atau huruf surat itu.

Hadits ini diriwayatkan oleh:
Imam Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan No. 2026
Imam Abdul Ghani Al Maqdisi dalam As Sunan, 2/91
Imam Ibnu ‘Adil dalam Al Kamil, 5/152

Sanad hadits ini:
     Abu Muhammad bin Hayyan berkata kepadaku Abu Ali bin Ibrahim, berkata kepadaku Abu Mas’ud Yazid bin Khalid, berkata kepadaku ‘Amru bin Ziyad Al Baqal Al Khurasani, berkata kepadaku Yahya bin Sulaiman, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari ayahnya, lalu disebut hadits di atas.
Hadits ini palsu dan tidak ada dasarnya menurut umumnya para ulama.
Imam Ibnu ‘Adi Rahimahullah berkata:
وهذا الحديث بهذا الإسناد باطل ليس له أصل
Hadits ini, dengan isnad seperti ini adalah batil, dan tidak ada dasarnya. (Al Kamil fidh Dhuafa, 5/152)
Beliau mengomentari ‘Amru bin Ziyad Al Baqal sebagai berikut:
ولعمرو بن زياد غير هذا من الحديث منها سرقة يسرقها من الثقات ومنها موضوعات وكان هو يتهم بوضعها
Untuk ‘Amru bin Ziyad, selain pada hadits ini, ada hadits lain yang dicurinya dari orang-orang terpercaya dan diantaranya banyak yang palsu, dan dia dituduh memalsukannya. (Ibid)
Sedangkan Imam Ad Daruquthni berkata: “Yadha’ul hadits – dia memalsukan hadits. (Mizanul I’tidal, 3/261)

Imam Adz Dzahabi berkata tentang ‘Amru bin Ziyad: “Wadhaa’ –pemalsu hadits. (Talkhis Kitab Al Maudhu’at, No. 940)
     Oleh karena itu, Imam Ibnul Jauzi memasukan hadits ini sebagai deretan hadits palsu. (Al Maudhu’at, 3/239)
Imam As Suyuthi menguatkan hadits ini, tetapi …
Sementara itu, Imam As Suyuthi nampak membela hadits ini dengan mengatakan: Lahu syaahid – hadits ini memiliki penguat. (Lihat Al La-ali Al Mashnu’ah fil Ahadits Maudhu’ah, 2/365)
Lalu Imam As Suyuthi menyebutkan hadits yang Beliau sebut sebagai syahid (penguat), yakni:
من زار قبر أبويه أو أحدهما كل جمعة غفر له وكتب برا
Barang siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat, maka dia diampuni dan dicatat baginya telah berbakti kepadanya. (HR. Ath Thabarani, Al Awsath No. 6114, dari Abu Hurairah)
     Tetapi, ternyata hadits ini pun juga cacat dengan cacat yang tidak kalah parahnya, yakni ada tiga orang perawi yang bermasalah:
Abdul Karim Abu Umayyah, oleh Imam As Suyuthi sendiri dikatakan dhaif.
Yahya bin Al ‘Ala Al Bajali, seorang yang majhul (tidak dikenal)
Muhammad bin An Nu’man, juga majhul (Lihat Al La-ali Mashnu’ah, 2/366)
Namun, yang benar adalah Yahya bin Al ‘Ala bukan majhul (tidak dikenal), tetapi dia ma’ruf (dikenal), bahkan sebagian imam menyebutnya sebagai pembohong. Berikut ini rinciannya:
Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Yahya bin Al ‘Ala: Laisa bi syai’ – bukan apa-apa.
Imam Amru bin Ali berkata: Matrukul hadits jiddan – haditsnya sangat ditinggalkan.
Imam Abu Zur’ah berkata: fi haditsihi dha’f – pada haditsnya ada kelemahan.
Imam Abu Hatim berkata: Laisa bil qawwi – bukan orang yang kuat. (Lihat Imam Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 9/180)
Imam Ahmad berkata: Kadzdzaab yadha’ul hadits – pembohong dan pemalsu hadits. Bahkan Beliau menyebut Yahya bin Al ‘Ala sebagai rafidhi – syiah.
Imam Amru bin Ali, Imam An Nasa’i, Imam Al Azdi berkata: matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.
Imam Ad Daruquthni mengatakan: dhaif – lemah.
Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: dhaif, pada hadits terdapat banyak hadits-hadits palsu.
Imam Ibnu Hibban mengatakan: tidak boleh berhujjah dengannya. (Lihat Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 1/144, 3/200. Juga Imam Ibnul Mubarrad, Bahrud Dam No. 1162)
Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Waki’ mengatakan bahwa Yahya bin Al ‘Ala memalsukan hadits tentang cara menanggalkan sandal sampai dua puluhan hadits.
Imam Al Jauzujaani mengatakan: ghairu muqni’ – tidak memuaskan. Pada kesempatan lain mengatakan: Syaikh waahiyun – seorang syaikh yang lemah.

Yusuf bin Sufyan mengenalinya dan mengingkarinya. As Saaji berkata: munkarul hadits – haditsnya munkar.
Ad Daulabi berkata: matrukul hadits. (Lihat Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 11/229)
Oleh karena itu, apa yang disebut Imam As Suyuthi bahwa Yahya bin Al ‘Ala seorang yang tidak dikenal, telah terkoreksi oleh pernyataan para imam yang sedemikian banyaknya tentang dia.
Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

Tuesday, 23 April 2013

WASPADAI PINTU-PINTU NERAKA


WASPADAI PINTU-PINTU NERAKA

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Saudaraku,
Bagi orang yang memiliki iman yang hidup, pasti hatinya diliputi perasaan takut yang tak terbilang dengan kepedihan dan kedahsyatan siksa neraka.

Sufyan Atsaury rahimahullah (ulama terkemuka dari kalangan tabi'in), di kala mengenang pedihnya siksa neraka, menyebabkan ia pernah terkencing darah dan nanah. Ia seorang yang zuhud terhadap dunia. Ketika ia berada di ambang kematian, ia meneteskan air mata menangis tersedu-sedu. Terbata-bata suaranya, dari lisannya terucap, "Aku khawatir di saat yang sangat menentukan masa depanku di akherat seperti ini, Allah saw mencabut keimanan dari hatiku."

Begutu pula Malik Bin Dinar rahimahullah ketika melaksanakan shalat malam tak sanggup membendung air matanya hingga membasahi jenggotnya yang lebat seraya berucap, "Duhai Rabb-ku, Engkau telah tetapkan para penghuni surga dan neraka, maka di manakah tempat tinggalku di akherat kelak?."

Saudaraku,
Nabi saw telah banyak mengajari kita do'a-do'a perlindungan agar kita terhindar dari siksa api neraka. Dan bahkan setiap kita shalat, dan sebelum salam kita berlindung kepada-Nya dari empat perkara; dari siksa neraka Jahannam, azab kubur, fitnah hidup dan mati serta fitnah al masih ad Dajjal." Seperti dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra.

Hati yang hidup akan tersengat dan menjerit jika anggota tubuhnya yang lain terperosok ke dalam lembah dosa dan terlempar ke jurang maksiat. Berbeda dengan orang yang hatinya mati atau sakit, maksiat dan dosa tak akan memberikan dampak apapun kepada dirinya. Tidur tetap nyenyak dan bahkan mendengkur. Seulas senyum tetap renyah untuk ditampilkan. Mengayunkan kakipun terasa ringan tanpa ada beban dan hambatan.

Hasan al Basri rahimahullah pernah berucap, "Tanda orang yang tenggelam dalam lautan dosa adalah hatinya terhalang untuk menggerakkan tubuhnya agar berpuasa di siang hari dan mendirikan shalat di malam hari."

Saudaraku,
Ibnul Qayyim rahimahullah menuturkan dalam kitabnya "Al Fawaid), bahwa manusia masuk ke dalam neraka lewat tiga pintu:

· Pintu syubhat. Ia mewariskan keragu-raguan dalam beragama.

· Pintu syahwat,